
PADANG PARIAMAN, Kepritoday.com – Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur menghadiri pengukuhan dan malewakan gala Muncak Rajo dan Pengurus Persatuan Olahraga Buru Babi (Porbi) Wilayah III Nagari Sikucua Pemekaran, di Korong Alahan Tabek, Nagari Sikucua Barat, Kecamatan V Koto, Kabupaten Padang Pariaman Sumatera Barat, Rabu (16/03) malam.
Pengukuhan dan malewakan gala Muncak Rajo untuk Porbi Wilayah III Nagari Sikucua Pemekaran yang dijabat oleh Ismail tersebut diselengggarakan selama enam hari dari 14-19 Maret 2022 dengan menggelar acara buru babi selama dua hari dan Kesenian Tradisional Indang Piaman selama empat malam.
Ketua Panitia Pelaksana, Rapi’i kepada Kepritoday.com mengatakan, sebelumnya beberapa perwakilan tokoh masyarakat, niniak mamak dan beberapa perangkat nagari telah menghadap Bupati Suhatri Bur untuk menyampaikan rangkaian kegiatan tersebut.
“Acara ini dilakukan dalam rangka melestarikan salah satu seni budaya yang ada di Minangkabau agar indak lakang dek paneh dan indak lapuak dek hujan”, terang Rapi’i yang juga menjabat sebagai Wali Nagari Sikucua Barat.
Menurutnya, Porbi Wilayah III Nagari Sikucua Pemekaran terdiri dari enam Kelompok di 4 nagari pemekaran tahun 2016 lalu yaitu, Nagari Sikucua Timur, Sikucua Barat, Sikucua Utara dan Sikucua Tengah.
“Budaya buru babi ini perlu kita lestarikan dan diramaikan yang artinya sebagai penyelenggara nagari, kita harus sato sakaki dalam kegiatan ini. Dampak dari budaya buru babi ini. Sangat terasa bagi masyarakat petani, terutama menjelang bulan puasa karena dapat menekan jumlah populasi dari hewan liar itu”, terangnya.
Rapi’i juga menjelaskan kan bahwa kegitan buru babi minimal bisa mengurangi dan menekan perkembangan hama babi karena populasi babi tidak dapat dihabiskan. Muncak inilah yang berperan dalam memburu babi yang ada didalam hutan yang dibantu juga oleh para pemburu lainnnya”, tukuknya.
Terpisah, Ketua Porbi Padang Pariaman, Maimusfi mengatakan, kegiatan berburu babi sangat membantu para petani karena lahan pertanian dapat terhindar dari hama yang sering merusak tanaman.
“Organisasi Porbi ini ada di setiap daerah namun di Padang Pariaman memiliki ciri khas tersendiri, yakni masih memiliki nilai adat-istiadat seperti dahulu yang dimufakatkan dengan niniak mamak “Senteang Babelai Niniak Mamak Panenan Dek Nan Mudo-mudo”. Disini niniak mamak, cadiak pandai dan anak mudo bersatu dalam membuat keputusan pengangkatan muncak buru”, jelasnya. (War)











