Polemik Kegiatan Syukuran BNPB, “Jual” Nama Masyarakat Natuna?

870

NATUNA, KEPRITODAY.COM – Terlaksananya kegiatan “Syukuran BNPB Bersama Masyarakat Natuna Dalam Rangka Pelepasan Tim Kemanusiaan WNI Wuhan” pada 15 Februari 2020 lalu, menuai polemik dikalangan masyarakat Natuna.

Pasalnya kegiatan syukuran yang dilaksanakan di Gedung Serindit, Jl. Yos Sudarso Ranai itu, dinilai tidak ada koordinasi sama sekali bersama masyarakat, maupu melibatkan masyarakat, meski telah membawa nama masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua KNPI Natuna Haryadi, saat melakukan jumpa Pers bersama sejumlah wartawan, di Ranai Square, Jl. Soekarno Hatta, Ranai, Natuna. Jum’at, (21/02/2020) pagi.

Dalam hal ini, Haryadi mempertanyakan masyarakat yang mana yang dimaksudkan dalam pembawa acara, dan dalam tulisan sepanduk acara yang bertuliskan “Malam Syukuran dan Apresiasi Tim Kemanusiaan Pelepasan WNI dari Wuhan Dengan Masyarakat Natuna”.

“Kami sebagai bagian elemen dari masyarakat merasa acara itu bukanlah acara kami, karna kami fi sini sifatnya hanya di undang”, ujarnya.

Haryadi menegaskan, kegiatan itu diduga menjadi ajang mendapatkan keuntungan kepentingan pribadi maupun kelompok, dari menjual nama masyarakat.

“Karena maaf, sebelum kita melaksankan Konferensi Pers ini, dari mulai pelaksanaan acara sampai semalam saya di buli teris oleh netizen, mereka menganggap saya yang memanfaatkan acara itu, padahal kami tidak terlibat. Acara itu pasti membutuhkan biaya, dan acara itu menggunakan biaya mana, apakah dari anggaran Pemda, atau masyarakat Natuna patungan buat gawai?”, Tegasnya.

Sementara Ketua Pemuda Pancasila (PP) Natuna Fadillah, juga dalam penyampaiannya juga tidak menampik apa yang disampaikan Haryadi.

Menurut Fadillah, kegitan acara tersebut terdapat dua oknum panitia yang sekaligus merupakan wartawan lokal Natuna.

Fadillah mengaku, sebelumnya Ia berencana akan menyampaikan 9 poin aspirasi masyarakat Natuna dalam kegiatan itu.

Namaun, aspirasi yang telah Fadillah catat dan akan dibacakan dalam acara, terdapat kejanggalan yang telah diatur oleh kedua oknum panitia tersebut.

“Ada 9 poin aspirasi masyarakar yang akan saya bacakan pada saat di acara itu, tapi anehnya malah bertambah poin itu menjadi 12 poin, jadi terkesan di atur-atur. Namun saya tetap bacakan yang 9 poin saja, karna itu murni aspirasi masyarakat, tidak di tambah-tambah dan tidak dikurang-kurang,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Fadillah juga menjelaskan kejanggalan lainnya dalam kegiatan syukuran BNPB Bersama Masyarakat Natuna.

Terdapat sejumlah tokoh masyarakat yang hadir dalam kegiatan, malah justru terlebih dahulu mendapatkan selembar kertas dari panitia, yang seolah-olah murni berisikan pesan-pesan dari tokoh masyarakat Natuna.

“Ada juga tokoh-tokoh masyarakat yang dapat duluan kertas dari panitia, berisi pesan-pesan seolah-olah dari tokoh masyarakat itu sendiri, ada apa ini sebenarnya? Kenapa seperti ada permainan?,” Ungkapnya.

Menanggapi permasalah itu, Cherman salah seorang panitia yang terlibat dalam kegiatan, seakan menepis kenyataan. Ia mengaku bukan kebijakan dirinya menentukan tema dalam kegiatan tersebut, melainkan usulan yang diarahkan langsung oleh Staf BNPB sendiri dalam menentukan tema kegiatan.

“Keterlibatan saya terhadap kegiatan tersebut adalah bertanggung jawab atas penampilan kesenian buadaya daerah, sekaligus memandu susuan acara randownnya saja. Terkait temanya itu, saya konsultasi ke staf nya BNPB, bagusnya seperti apa, nah tema itu saya dapatkan dari pak Egi staf dari BNPB,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, sejumlah pimpinan organisasi kepemudaan, maupun Ormas Natuna lainnya masih menunggu kelarifikasi dari salah seorang panitia lainnya yakni Ipan, yang sekaligus merupakan EO (Even Organizer) kegiatan. (Zal).

Leave A Reply

Your email address will not be published.