DJBC Kepri Ungkap 4 Kasus Penindakan Patroli Laut

18
DJBC Karimun Kepri menunjukan BB saat ekspose penindakan patroli laut

KARIMUN, Kepritoday,com – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kantor Wilayah Khusus Kepulauan Riau, mengungkap 4 kasus dalam ekspose, Kamis. (04/01/2017), diantaranya pertama,mengamankan KM. CAMAR PERMAI berbendera Indonesia dengan Nakhoda kapal YS (47) dan 14 orang ABK membawa barang tanpa dokumen berupa ±1000 karton Susu Milo,±1000 kotak roti,±150 drum kosong,±100 velg bekas,±200 ban bekas,2 karung besar pelampung jaring (menurut pengakuan Nakhoda) berasal dari Port Klang Malaysia tujuan Tg.Balai Asahan.

Ada pun perkiraan nilai barang ± Rp.  2.025.000.000,- dan kerugian negara Materiil: Rp. 592.312.000,,Immateriil : Merugikan industri dan pasar lokal dalam negeri

Diduga melanggar:

Pasal 10A ayat (4) UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, tentang pengangkut yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tetapi jumlah barang impor yang dibongkar lebih banyak dari yang diberitahukan dalam pemberitahuan pabean dan tidak dapat membuktikan kesalahan tersebut terjadi diluar kemampuannya dikenai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit Rp 25. 000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) dan paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.04/2010 tentang Impor Barang Dibawa oleh Penumpang, Awak Sarana Pengangkut, Pelintas Batas, dan barang Kiriman, dinyatakan:

Pasal 10 ayat (1), terhadap barang pribadi awak sarana pengangkut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dengan nilai pabean paling banyak FOB USD 50,00 (lima puluh US dollar) per orang untuk setiap kedatangan, diberikan pembebasan bea masuk.

Modus Operandi,Awak Sarana Pengangkut mengangkut barang impor melebihi haknya sehingga berpotensi adanya barang impor yang dibongkar lebih banyak.

Setelah sampai di Kanwil DJBC Khusus Kepri, akan langsung ditangani oleh Bidang Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau, untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kedua, mengamankan 140 kotak handphone merek Xiaomi dari SB. Azimut dan 4 orang ABK asal Singapura tujuan Tembilahan, modus operandinya, mengangkut barang impor tanpa dilengkapi dokumen kepabeanan yang sah.

Dalam hal ini total nilai kerugian negara materil Rp.1,134 miliar, dan immateril merugikan perekonomian industri dalam negeri, adapun perkiraan nilai barang Rp.6,480 miliar.

Pasal yang di kenakan,Pasal 102 huruf (a) UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, dipidana karena melakukan penyeludupan di bidang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidanan denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliyar rupiah)

ketiga, mengamankan KM. Harapan Indah berbendera Indonesia mengangkut ±15 ton bawang merah,±100 ball balepress (menurut pengakuan ABK).asal angkut dari Port Klang Malaysia tujuan Tg.Balai Asahan, Perkiraan Nilai Barang Rp. 870jt, Perkiraan Kerugian Negara, Materil: Rp. 339.075.000,Immateriil : Merugikan petani dan pasar lokal dalam negeri.

Modus Operandi Mengangkut barang larangan pembatasan impor tanpa dilengkapi dokumen kepabeanan yang sah, Alasan Penindakan diduga melanggar Pasal 102 huruf (a) UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidanan denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliyar rupiah).

Dan yang keempat,mengamankan KM. Firdaus berbendera Indonesia barang bukti yang di amankan ±40 ton bawang merah dari Port Klang, Malaysia tujuan Tg. Balai Asahan, Indonesia, perkiraan nilai barang Rp.1.520 miliar dan diperkiraan kerugian negara materiil: Rp.623jt, Immateriil : Merugikan petani dan pasar lokal dalam negeri, Modus Operandi mengangkut barang larangan pembatasan impor tanpa dilengkapi dokumen kepabeanan yang sah.

Diduga melanggar Pasal 102 huruf (a) UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, tentang mengangkut barang impor dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidanan denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliyar rupiah)

Tindakan selanjutnya telah dilakukan penyidikan tindak pidana kepabeanan dengan tersangka a/n Sdr. AFS dan saat ini telah dititipkan penanganannya di Rutan Kelas II B Tanjung Balai Karimun. (And/Osr)

 

Comments are closed.