Kepritoday.com – Di balik geliat pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh kehadiran PT Indojaya Agrinusa, anak perusahaan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, tersimpan kisah pilu warga Kampung Gesek, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan.
Peternakan skala besar yang mereka kelola di Toapaya Asri Farm rupanya membawa dampak lingkungan serius bagi warga yang tinggal di sekitarnya.
Bagi sebagian pihak, keberadaan peternakan ini menjadi simbol kemajuan dan investasi. Namun bagi warga seperti Sarnam, peternakan justru menjadi sumber bencana.

Sarnam adalah satu dari sekian warga yang berada di posisi paling rentan. Rumah dan lahan pertaniannya terletak tepat di bawah area peternakan. Setiap kali hujan deras turun, ia harus bersiap menghadapi banjir deras yang membawa lumpur dan limbah dari atas.
“Rumah saya selalu terendam, bahkan sebagian besar lahan perkebunan saya sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi,” kata Sarnam getir.
Banjir bukan hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan utama keluarganya. Lahan yang dulunya produktif kini menjadi kubangan lumpur tak berdaya.
Kini keluarga Sarnam hidup dalam kekhawatiran permanen setiap musim hujan datang. Limpasan air dari peternakan diduga kuat tidak ditangani secara memadai oleh perusahaan. Buruknya pengelolaan drainase dan tidak adanya kolam resapan membuat air mengalir liar ke kebun dan rumahnya.

Jika kondisi ini dibiarkan, konflik sosial antara perusahaan dan masyarakat bisa muncul. Apalagi jika warga merasa tak didengar dan pemerintah tak hadir.
Yang lebih mengecewakan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bintan, Niken Wulandari, memilih bungkam saat dikonfirmasi terkait keluhan warga.
Sikap ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai komitmen pemerintah daerah dalam perlindungan lingkungan hidup dan hak masyarakat. Ketiadaan tanggapan hanya memperparah ketidakpercayaan warga terhadap negara.(wae)
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi Kepritoday.com: today.kepri@gmail.com







