Benarkah Satwa Liar Lutung Ada di Kecamatan Serasan?

NATUNA, KEPRITODAY.COM – Hewan satwa liar Lutung atau dalam bahasa lain disebut Langgur merupakan kelompok monyet Dunia Lama yang membentuk genus Trachypithecus.

Secara garis besar, lutung tersebar di dua wilayah: Asia Tenggara, India barat daya, Tiongkok selatan, Kalimantan, Bali, India selatan dan Sri Lanka.

Namun siapa sangka, Lutung primata endemis yang berbadan langsing, berekor panjang dan terlihat menggemaskan tersebut diketahui keberadaannya di Kecamatan Serasan, Natuna, Kepri.

Menurut keterangan salah seorang tokoh masyarakat Serasan, Ahim (50), Lutung kerap menampakkan diri pada saat setelah hujan, bergelayutan dan melompat dari pohon ke pohon ditengah pemukiman warga.

“Lutung mencari makan pada siang hari, sangat jinak, tidak jarang kami melihat dia bergelayutan di pohon”, ujar Ahim.

Ahim (50) Salah Seorang Masyarakat Serasan, Saksi Mata Keberadaan Lutung

Keberadaan Lutung di Kecamatan Serasan semakin menguat ketika diakui kembali oleh Aryandi, Kepala Desa Payak, Kecamatan Serasan.

Menurut Aryandi, Lutung Serasan kerap merusak dan memakan tanaman warga. Meski demikian diakuinya warga tidak pernah mencoba untuk membunuh atau menangkap satwa liar tersebut.

“Masyarakat sadar hewan tersebut sudah tergolong langka, jadi tidak ada masyarakat yang menangkap apa lagi membunuhnya”, terang Aryandi.

Aryandi berharap, keberadaan Lutung di Kecamatan Serasan dapat menjadi perhatian dari Pemerintah agar kelestariannya tetap terjaga.

“Ini bisa menarik perhatian wisatawan jika benar-benar di perhatikan Pemerintah, dan masuk dalam icon Kecamatan Serasan”, pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boy Wijanarko mengaku pihaknya belum melakukan pendataan terkait keberadaan jumlah populasinya di Serasan.

Namun Ia menegaskan, masyarakat dilarang membunuhnya karena merupakan salah satu jenis monyet khas Indonesia yang dilindungi, dan populasinya mulai langka sehingga terancam punah.

“Memang dulu permintaan dari Kades di sana untuk memusnahkan karena sering menggangu tanaman warga, tetapi saya tegaskan hewan itu tidak boleh dibunuh karena sudah dilindungi UU”, tegasnya.

Dilansir dari Wikipedia, Lutung memiliki warna bulu tubuhnya berlainan tergantung spesiesnya mulai dari hitam dan kelabu, hingga kuning emas. Jika dibandingkan dengan kakinya, tangan lutung terbilang pendek, dengan telapak yang tidak berbulu.

Ukuran lutung berkisar antara 40-80 cm, dengan berat 5-15 kg; pejantan berbadan lebih besar dari pada betinanya.

Lutung hidup di hutan, terutama hutan hujan. Sehari-hari bergelayutan dan melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, lutung termasuk hewan siang dan sangat aktif pada pagi dan sore hari.

Hewan ini hidup bergerombol antara 5-20-an yang dipimpin oleh seekor jantan. Suara pejantan ini sangat nyaring, ditujukan terutama untuk mengingatkan agar kelompok lain tidak memasuki wilayahnya.

Lutung diketahui termasuk hewan herbivora yang terutama makan dedaunan, buah-buahan, dan kuncup bunga. Bahan makanan yang cenderung keras ini bisa dicerna, karena lutung memiliki empat kamar pada lambungnya.

Biasanya, lutung beranak satu, dengan masa hamil tujuh bulan. Salah satu hal yang menarik dari monyet ini adalah anaknya yang berbulu keemasan, dan dipelihara oleh seluruh betina dalam kelompok. Seiring dengan bertambahnya umur, warna keemasan pada rambutnya ini akan semakin pudar berganti gelap hingga akhirnya mencapai dewasa pada umur 4-5 tahun. (Zal).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.