Polisi Sebagai Penggerak Revolusi Mental dan Pelopor Tertib di Ruang Publik

IMG-20160524-WA0000

Kapolda Kepri Brigjen Pol. Drs. Sam Budigusdian, MH, Pada Acara Pelatihan Revolusi Mental Polda Kepri T.A 2016, di Gedung Lancang Kuning, Mapolda Kepri.

BATAM, Kepritoday.com – Kepolisian Daerah Kepulauan Riau mengadakan kegiatan pelatihan revolusi mental tahun 2016. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari senin, tanggal 23 Mei 2016, bertempat di Gedung Lancang Kuning, Mapolda Kepri.

Acara pembukaan pelatihan revolusi mental Polda Kepri TA. 2016 dipimpin oleh Kapolda Kepri Brigjen Pol. Drs. Sam Budigusdian, MH, dihadiri oleh Wakapolda Kepri, Irwasda Polda Kepri, Para pejabat utama, Para Panitia serta para peserta pelatihan.

Jumlah peserta pelatihan sesuai dengan perencanaan yaitu berjumlah 100 orang personil terdiri dari Pamen/Pama/PNS Polri Golongan III Jajaran Polda Kepri. Jumlah dari  Satwil-Satwil jajaran Polda Kepri antara lain, Polresta Barelang 12 Personel, Polres Tanjungpinang 11 Personel, Polres Karimun 11 Personel, Polres Bintan 11 Personel, Polres Lingga 5 Personel dan Polres Natuna 2 Personel, dan di tambah dari seluruh Satker-Satker Polda Kepri.

Dalam Sambutan Kapolda Kepri Brigjen Pol. Drs. Sam Budigusdian, MH, menyampaikan, Kegiatan pelatihan Revolusi Mental Polda Kepri Tahun 2016 ini merupakan penjabaran Undang-Undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025.

Dimana visi bangsa Indonesia adalah “Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur yang mewakili karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, berbudi luhur, bertoleransi, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya dan berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan falsafah pancasila”.

Dari visi Bangsa Indonesia sebagaimana tersebut dijabarkan dalam rencana pembangunan jangka menengah Nasional Tahun 2015-2019 oleh Pemerintah Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Ir. Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, dimana agenda pembangunan Nasional dirumuskan berdasarkan pada Falsafah Trisakti yakni berkedaulatan dibidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan.

Pemerintahan presiden Jokowi-JK merumuskan 3 (tiga) permasalahan pokok yang dihadapi Bangsa Indonesia yakni merosotnya kewibawaan negara, melemahnya sendi-sendi perekonomian negara dan merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.
Dari 3 (tiga) permasalahan pokok bangsa indonesia maka bangsa indonesia menghadapi 3 (tiga) tantangan utama dalam pembangunan yaitu :

  1. Bagaimana harus meningkatkan kewibawaan negara, dengan sasaran meningkatnya stabilitas politik dan keamanan negara, tata kelola birokrasi yang efektif dan efesien dan pemberantasan korupsi;
    2 bagaimana menguatkan perekonomian negara, dengan sasaran tumbuhnya ekonomi yang tinggi berkelanjutan, percepatan pemerataan keadilan dan keberlanjutan pembangunan;
    3. Bagaimana memperbaiki krisis kepribadian dan intoleransi, dengan sasaran meningkatnya kualitas sumber daya manusia bangsa indonesia, mengurangi kesenjangan antar wilayah dan percepatan pembangunan bidang kelautan.
    Rumusan visi pada kabinet kerja tersebut, pemerintah menetapkan 9 (sembilan) program prioritas pembangunan yang dikenal dengan program nawacita sebagai berikut :
  2. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara;
    2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokrasi dan terpercaya;
    3. Membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan;
    4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakkan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya;
    5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia;
    6. Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing pasar Internasional;
    7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik;
    8. Melakukan revolusi karakter bangsa;
    9. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
IMG-20160524-WA0001

Peserta Pelatihan Revolusi Mental Polda Kepri TA. 2016

Menindaklanjuti kebijakan Pemerintah sebagaimana tersebut diatas telah dijabarkan dalam Quick Wins Polri pada Restra Polri 2015-2019 pada point 6 yaitu “Polisi sebagai penggerak Revolusi Mental dan sebagai Pelopor Tertib Sosial diruang Publik” dan sasaran rencana Strategis Polri 2015-2019 pada point 2 yaitu terbangunnya Postur Polri yang Profesional, Bermoral, Modern dan unggul melalui jalur pendidikan dan pelatihan.

Nilai-nilai yang ada dalam Revolusi Mental antara lain, perubahan Mindset dan Culture Set (NAC dan IPS) pendidikan budaya dan anti korupsi, kode etik profesi Polri, nilai-nilai karakter keBhayangkaraan (brata dedikasi sejati) dan nilai-nilai karakter bangsa (kewargaan, dapat dipercaya, mandiri, kreatif, gotongroyong, saling menghargai). Nilai-nilai itulah yang dikemas dalam revolusi mental untuk membangun sumber daya manusia Polri, dengan harapan adanya perubahan mendasar membangun karakter bangsa melalui pelatihan di tingkat Polda.

Kita sadari bersama bahwa tantangan tugas Polri kedepan semakin hari semakin berat karena pengaruh lingkungan strategis baik Global, Regional, Nasional dan Lokal yang harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas personel Polri secara berkelanjutan, yang salah satunya dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan.

Upaya meningkatkan kualitas SDM Polri tersebut tentunya bukan hanya mencakup aspek Intelektual saja, namun harus menyentuh aspek Mental kepribadian yang justru berperan penting dalam pelaksanaan tugas Polri sebagai pemeliharaan Kamtibmas, Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat serta Penegak Hukum.

Sikap mental kepribadian merupakan hal penting dan mendasar dalam mendukung keberhasilan dalam pelaksanaan tugas, oleh karena itu aspek mental/perilaku harus menjadi atensi khusus untuk mewujudkan citra dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Pembentukan dan pemeliharaan aspek sikap perilaku atau mental kepribadian setiap anggota Polri harus dilakukan terus menerus agar tidak mudah tergerus dan terkontaminasi dengan berbagai faktor negatif yang dapat merusak mental anggota Polri.

Upaya-upaya untuk pemeliharaan sikap mental prilaku angota Polri dapat dilakukan melalui berbagai upaya antara lain pembinaan, pengawasan melekat, reward and punishment maupun melalui pendidikan dan pelatihan, dimana hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang Revolusi Karakter Bangsa.

Kepada seluruh peserta pelatihan diharapkan agar dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan memiliki komitmen sebagai agent of change baik secara individu maupun kesatuan untuk mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Pada Panitia dan Trainer, diharapkan agar peserta pelatihan dilatih secara sungguh-sungguh agar memperoleh gambaran yang utuh atas materi yang disampaikan dan dapat mentransformasikan kembali kepada personel Polri di kesatuan masing. (andri)

 

Top