Zeki Aliwardana : Ada Kerancuan Dalam Pemberian Nama City Pada Korong Tarok

Ketua Pimpinan cabang Gerakan Pemuda Ansor Padang Pariaman, Zeki Aliwardana. 

Padang Pariaman, Kepritoday.com – Pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman yang belakangan ini gencar mempromosikan pembangunan kawasan Tarok City yang berada di Kecamatan 2 X 11 Kayutanam Kabupaten Padang Pariaman perlu ditinjau ulang. Karena ada kerancuan dalam pemberian nama dan jauh dari nilai-nilai kultur yang ada di masyarakat Kabupaten Padang Pariaman.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan cabang Gerakan Pemuda Ansor Padang Pariaman, Zeki Aliwardana, Selasa (11/7/) di Parikmalintang. Menurut Zeki kerancuan tersebut terlihat dari penamaan istilah city yang ditempatkan setelah nama Korong Tarok.

“Dalam kamus Bahasa Inggris – Indonesia karangan John M. Echols – Hassan Shadily, halaman 114-115 disebutkan city berarti kota. Berarti Tarok City maksudnya Kota Tarok. Sedangkan Tarok sendiri hingga kini masih merupakan kawasan hutan atau peladangan rakyat. Katakanlah kawasan tersebut dirancang dengan berbagai peruntukan lahan sehingga nantinya bakal ramai, menjadi kota, tetap saja istilah itu kurang tepat dengan kultur masyarakat di Padang Pariaman,” kata Zeki Aliwardana didampingi sekretarisnya Alfa Anwar.

Kawasan hutan atau peladangan rakyat di Korong Tarok yang akan dibangun sejumlah perguruan tinggi negeri, lembaga pendidikan dan pelatihan serta rumah sakit. 

Menurut Zeki, sebagaimana yang diberitakan berbagai media ke publik, di kawasan tersebut bakal dibangun sejumlah perguruan tinggi negeri, lembaga pendidikan dan pelatihan, rumah sakit dan sebagainya. Sehingga kawasan ini bakal menjadi sebuah kota. “Kenapa harus menggunakan istilah asing, seolah-olah kita bangga dengan istilah asing tersebut,” katanya.

Seharusnya Pemkab Padang Pariaman menggunakan istilah lokal sesuai dengan kultur Padang Pariaman sendiri. Misalnya, Kampung Tarok, atau ada istilah lain yang sesuai dengan nilai-nilai budaya Padang Pariaman. Soal mau menjadi kawasan moderen, kota, ya silakan saja. Bahkan di kota besar seperti Jakarta sendiri, masih ada nama kawasan menggunakan kata kampung. Misalnya Kampung Rambutan.

Zeki juga mencontohkan penggunaan istilah los lambuang di Pasar Kuraitaji. Tidak menggunakan istilah pujasera atau kawasan kuliner yang terkesan mentereng. Dengan istilah los lambuang yang sesuai dengan budaya lokal, malah menjadi ikon bagi orang di luar Pariaman. Setiap orang yang datang ke daerah ini, selalu ingin tahu dan merasakan suasana dengan los lambuang.

“Dengan penggunaan istilah lokal tersebut, kita mempromosikan dan menjualnya ke publik. Karena itu, penanamaan Tarok City patut dikaji ulang untuk dicarikan istilah yang lebih tepat dan sesuai dengan kultur masyarakat Padang Pariaman,” kata Zeki yang mengaku kaget saat munculnya spanduk Tarok City di sejumlah lokasi di Padang Pariaman.

Hingga kini, kita tidak mengetahui apa alasan Pemkab Padang Pariaman menggunakan istilah Tarok City. Sebelum nama tersebut disampaikan ke publik, apakah Pemkab Padang Pariaman pernah mensosialisasikan dengan para pemuka di Tarok sendiri, pemuka tokoh adat, wakil rakyat di Padang Pariaman ini.

Hal ini perlu dipertanyakan, karena menyangkut nama kawasan di Padang Pariaman yang berimplementasi jangka panjang. Dengan luas ratusan hektar dan bakal berdiri berbagai institusi pemerintahan, tentu sejak awal harus menjadi perhatian semua pihak, kata Zeki yang juga mantan Sekretaris PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman.

“Kita berharap DPRD Padang Pariaman sebagai wakil rakyat Padang Pariaman minta penjelasan kepada Bupati Padang Pariaman terkait Tarok City. Kemudian DPRD sebagai wakil rakyat menyampaikan kepada masyarakat alasan penggunaan istilah Tarok City tersebut,” kata Zeki menambahkan. (Dodoyx)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top