Wakil Bupati Padang Pariaman, Buka Kegiatan Gerakan Thaharah Masjid

Kepala Kankemenag Padang Pariaman, Dr. H. Helmi, M.Ag (tengah) ketika menghadiri kegiatan GTM di Masjid Agung Syekh Burhannudin, Ulakan.

PADANG PARIAMAN, Kepritoday.com – Gerakan Thaharah Masjid (GTM) serentak yang diselenggarakan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (13/5) dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur, SE, MM didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman, Dr. H. Helmi, M.Ag di Masjid Agung Syekh Burhannudin, Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Anggota DPR RI dari Komisi VIII (Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan), John Kenedy Azis, SH, Forkompimcam Ualakan Tapakis, Wali Nagari Tapakis, ASN Kankemenag Padang Pariaman dan tokoh masyarakat serta masyarakat sekitar Masjid Agung Syekh Burhannudin.

Wakil Bupati Suhatri Bur mengatakan, Thaharah merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT kepada hamba sebelum melakukan ibadah yang lain. Thaharah juga menunjukan bahwa sesungguhnya Islam sangat menghargai kesucian dan kebersihan sehingga diwajibkan kepada setiap muslim untuk senantiasa menjaga kesucian dirinya, hartanya serta lingkungannya.

Menjelang Bulan Suci Ramadhan tiba, kegiatan GTM tepat dijadikan ajang bersilahtirahmi dan bergoro bersama membersihkan masjid dan surau ditempat kita masing-masing,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kankemenag Kabupaten Padang Pariaman, Helmi mengatakan, dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 1439 H, Kementerian Agama Kabupaten Padang Pariaman menggelar GTM serentak di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.

“Thaharah merupakan miftah (alat pembuka) pintu untuk memasuki ibadah shalat. Tanpa thaharah pintu tersebut tidak akan terbuka. artinya tanpa thaharah, ibadah shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, tidak sah,” terangnya.

Karena fungsinya sebagai alat pembuka pintu shalat, lanjutnya, maka setiap muslim yang akan melakukan shalat tidak saja harus mengerti thaharah melainkan juga harus mengetahui dan terampil melaksanakannya sehingga thaharahnya itu sendiri terhitung sah menurut ajaran ibadah syar’iah. (Doyx)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *