Soal Banjir di Tanjungpinang, Ini Solusi dari Paslon Syahrul-Rahma

TANJUNGPINANG, Kepritoday.com – Tema lingkungan paling ditunggu-tunggu masyarakat Tanjungpinang dalam debat publik Pilkada Tanjungpinang 2018 di putaran kedua, yang diselenggarakan di Hotel Aston, Tanjunginang, Selasa, 15 Mei 2018. Yang mengangkat tema ekonomi, pariwisata dan lingkungan.

Sebab, permasalahan banjir sudah lama menjadi keluhan masyarakat Tanjungpinag namun hingga saat ini tak kunjung mendapat solusi yang tepat dan efisien.

Saat hujan turun, jalan tergenang air yang kerab menimbulkan kemacetan karena menggangu kelancaran arus lalu lintas. Tak hanya itu, rumah-rumah warga banyak yang tergenang air.

Ruoanya Paslon Syahrul-Rahma sudah mempersiapkan solusi untuk mengatasi persoalan banjir di Tanjungpinang, jika diberikan kesempatan memimpin kota Gurindam itu.

Dalam menjawab persoalan banjir yang selalu mengganggu aktivitas masyarakat seperti disaat hujan turun, Paslon Syahrul – Rahma punya menawarkan solusi dengan membuat lubang resapan biopori di kawasan rawan banjir. Lubang biopori adalah sebagai resapan air.

“Kita akan mendorong masyarakat untuk bersama-sama membuat lubang biopori di rumah masing-masing terutama bagi lokasi yang sering mengalami banjir,” ucap Syahrul.

Selain itu, perlu membuat kebijakan yang menjadi pedoman bagi para pengembangan dalam pembangunan kawasan perumahan baru. Dalam kebijakan ini akan diwajibkan membuat lubang-lubang resapan biopori.

“Jadi para developer yang ingin membangun perumahan baru akan diwajibkan membangun biopori khususnya di perumahan yang rawan dan berpotensi banjir,” papar Syahrul.

Kebersihan lingkungan juga menjadi perhatian khusus Paslon Syahrul – Rahma. Dalam hal ini menawarkan konsep pengelolaan sampah yang dapat memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.

Syahrul mengatakan, masyarakat akan dilibatkan secara langsung dalam pengelolaan sampah. Caranya denga mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan biogas. “Sehingga bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, menurut Rahma pengolaan sampah untuk berbahan non organik seperti plastik bisa menjadi hasil kerajinan masyarakat, misalnya membuat hiasan bunga.

“Pemerintah akan memfasilitasi pemasaran produk kerajinan masyarakat yang berasal dari bahan sampah tersebut, agar diterima pasar,” jelas Rahma.(red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top