Pulau Penyengat di Mata Ketum IWO

Jodhi Yudono, Ketum IWO saat Wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat pulau penyengat.

TANJUNGPINANG, Kepritoday.com – Setelah melantik kepengurusan DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Tanjungpinang, Ketua Umum IWO Pusat, Jodhi Yudono, menyempatkan diri menyambangi situs bersejarah yang ada di pulau penyengat, Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau.

Ketua Umum IWO, Jodhi Yodono, yang juga salah satu Sejarahwan, mengungkapkan kesedihannya saat mengetahui kondisi Pulau penyengat, yang menjadi salah satu peninggalan bersejarah di bumi Pertiwi, yang kurang terurus dan juga adanya dualisme silsilah keturunan.

Dualisme tersebut, yaitu adanya keturunan Raja dan juga Kesultanan.namun Pihak Pemerintah Pemerintah kota Tanjungpinang, lebih condong memihak kepada silsilah keturunan Kerajaan yang ada di Pulau Penyengat.

“Setelah saya mendengar dari salah satu keturunan yang ada disini, tentang bagaimana kurang terurusnya situs bersejarah ini,saya sangat prihatin dan juga sedih, apalagi mendengar adanya dualisme silsilah keturunan disini” ungkapnya, Kamis(9/2/18), Sore Kemarin.

Ia juga mengatakan bahwa, Pemerintah Indonesia tidak adil, dikarenakan Pulau penyengat, yang dulunya bekas peninggalan Kesultanan tidak di berikan satu Keistimewaan, seperti di daerah Yogyakarta dan juga Nagroh Aceh Darussalam.

“Seharusnya pihak Pemerintah Pusat, menyematkan daerah Istimewa, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga Aceh, di karenakan pulau penyengat juga pernah menjadi daerah Kesultanan, yaitu Kesultanan Riau Lingga” ungkapnya.

Terakhir ia berharap, agar keturunan Kesultanan yang ada di Pulau penyengat, dapat terus berjuang,agar Pulau penyengat menjadi salah satu cagar budaya dan bisa menjadi warisan bersejarah Yang ada di Dunia.

“Saya harap pulau penyengat yang ada di bumi Melayu ini, dapat terjaga menjadi salah satu cagar budaya lebih baik lagi kedepannya,di karenakan setiap sudut Pulau ini, mempunyai sejarah yang tinggi” ungkapnya.

Sekedar informasi, Pulau Penyengat adalah salah situs bersejarah dari Kesultanan Riau Lingga.

Di Pulau penyengat tersebut, terdapat salah satu masjid yang telah berdiri sejak Tahun 1812,dan juga terdapat beberapa makam-makam bersejarah,salah satunya adalah Raja Ali Haji Fisabilillah,yang terkenal dengan sebutan bapak bahasa Indonesia,dan juga karyanya yaitu Gurindam 12.

sekarang Pulau tersebut menjadi salah satu destinasi wisata Religi bagi wisatawan baik lokal maupun internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top