Perceraian Nonmuslim Batam Meningkat 30 Persen

akte ceraiBatam, Kepritoday.com – Kasus perceraian pasangan nonmuslim yang ditangani Pengadilan Negeri Batam, Kepulauan Riau selama 2013 mencapai 120 perkara, atau meningkat sekitar 30 persen dibandingkan pada 2012.

“Pada 2012 kasus perceraian yang ditangani hanya 89 perkara. Angkanya meningkat signifikan pada 2013,” kata Panitera Muda Perdata PN Batam, Teguh di Batam, Kamis.

Ia mengatakan, rata-rata kasus perceraian terjadi antara pasangan yang bekerja pada sektor swasta dengan alasan ekonomi dan adanya pihak ketiga atau perselingkuhan.

“Kasus yang disidangkan hampir semua diputus cerai karena memang dua belah pihak sama-sama sudah tidak ada kecocokan,” kata dia.

Sementara itu, Pengadilan Agama Kota Batam mencatat setiap hari ada 4-5 pasangan di Batam yang bercerai setelah mengajukan gugatan dengan berbagai permasalahan.

“Hingga November 2013 terdapat 1.704 permohonan perceraian dengan berbagai kasus yang disampaikan untuk disidangkan atau rata-rata empat hingga lima kasus perceraian per hari,” kata Humas Pengadilan Agama Batam Mukhlis.

Mukhlis mengatakan sebagian besar kasus perceraan diajukan oleh pihak istri karena pihak suami dituduh melakukan perselingkuhan dengan wanita lain (gugat cerai) sebanyak 1.122 kasus.

“Dari tahun ke tahun kasus perceraian karena pihak suami memiliki wanita lain terus mendominasi. Biasanya sebelum persidangan sudah tidak bisa dimediasi lagi dan dalam sidang diputus cerai,” katanya.

Sementara 553 kasus perceraian diajukan oleh pihak suami (talak cerai) karena pihak istri dinilai tidak patuh pada suami.

Sisanya mengajukan gugatan perceraian karena adanya berbagai masalah seperti masalah perekonomian yang membuat pasangan yang sudah menikah tersebut tidak mampu mempertahankan rumah tangganya.

“Rata-rata antara suami istri kurang komunikasi dan tidak memahami kondisi masing-masing. Sehingga saat terjadi masalah, tidak bisa dimediasi lagi dan diajukan ke pengadilan agama,” kata Mukhlis.

Mukhlis menambahkan bahwa banyak kasus perceraian di Batam yang diduga sebagai akibat pola hidup masyarakat yang tidak taat terhadap agama. (Ant)

Top