Pendapatan Pemerintah Kepri Menurun, Walau Pemulihan Ekonomi Menguat

15
Lingga
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri Gusti Raizal Eka Putra memaparkan perekonomian kepri (2)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, memaparkan perekonomian kepri

BATAM, Kepritoday.com – Realisasi pendapatan pemerintah daerah di wilayah Kepulauan Riau pada triwulan II 2016 sebesar 30,4% lebih rendah di banding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33,5%. Realisasi tersebut dipengaruhi oleh pagu DBH/SDA yang mengalami penurunan +60% dibanding tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri Gusti Raizal Eka Putra, dalam paparannya menjelaskan, menurunnya DBH/SDA mendorong Pemda berupaya meningkatkan realisasi penerimaan PAD sebesar 23,9% dari total pagu yang ditopang dari pajak dan retribusi daerah, berbeda dengan realisasi pendapatan belanja pemerintah terealisasi sedikit lebih tinggi sebesar 30,5% ditopang oleh belanja operasi yaitu, belanja pegawai dan realisasi belanja barang dan jasa, sementara belanja modal oleh Pemda baru terealisasi sebesar 18,4%.

Selain itu, anggaran belanja modal proyek infrastruktur yang dilaksanakan melalui APBN untuk pembangunan gedung, jalan dan jembatan, pelabuhan laut dan udara, serta sumber daya air telah terealisasi sebesar 27,86%, sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya realisasi APBN sebesar Rp. 205 miliar atau pagu anggaran.

Untuk inflasi Kepri sebesar 3,85% tren perlambatan inflasi Kepri searah dengan Nasional dan Sumatera, meski demikian inflasi nasional tercatat lebih rendah yaitu 3,45% sementara inflasi Sumatera 4,16%. Andil terbesar inflasi bersumber dari tarif angkutan udara, beras dan bayam.

Media Cetak Online dan Elektronik saat mendengar kan paparan Bank Indonesia Kepri
Media Cetak Online dan Elektronik, saat mendengarkan paparan Bank Indonesia Kepri

Secara spesial dorongan terbesar inflasi Kepri bersumber dari kota Batam dengan inflasi 4,13%, sementara inflasi Tanjung Pinang 2,19% memasuki triwulan III 2016, tren perlambatan inflasi di perkirakan berlanjut sejalan dengan tingkat permintaan yang kembali normal.

Untuk kinerja perbankan diwilayah Kepri relatif stabil, di kuti dengan stabilitas keuangan daerah yang tetap terjaga, hal ini tercermin dari penyaluran kredit yang meningkat, mesti aset dan DPK masih melambat, kredit tercatat tumbuh menguat 9,94% dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh 6,45%, yang didorong oleh pertumbuhan kredit modal kerja dan kredit investasi.

Sementara, melambatnya pertumbuhan aset dan DPK perbankan diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan penarikan dana oleh masyarakat berkenaan dengan idul fitri dan belanja Pemda yang meningkat, sementara, pendapatan menurun pada triwulan laporan.

Gusti menambahkan, stabilitas keuangan daerah tetap terjaga, ditopang perbaikan kinerja korporasi dan penguatan sektor rumah tangga, membaiknya kinerja korporasi dipengaruhi perbaikan kinerja sektor utama yaitu industri pengolahan dan kontruksi, sementara ketahanan sektor rumah tangga tetap terjaga, ditopang oleh peningkatan pendapatan rumah tangga yang tercermin dari peningkatan DPK perseorangan. (And)

 

Comments are closed.