Novel Ramlie Oi Ramlie Sebahagian Besar Menceritakan Budaya Melayu

Poto bersama para pemain film “Ramlie oi Ramlie ” di Gedung LAM Batam Center setelah launching novel Ramlie oi Ramlie

BATAM, Kepritoday.com – Launching novel Ramlie oi Ramlie sekaligus syukuran film Ramlie oi Ramlie diselenggarakan di gedung Lembaga Adat Melayu (LAM), Sabtu (14/6/2018).

Dalam sambutannya, Je Yatmoko yang merupakan produser film Ramlie oi Ramlie sangat berterima kasih kepada seluruh undangan yang berkenan menyempatkan diri untuk hadir dalam acara tersebut. Dia berharap launching buku ini bisa membawa dampak positif bagi ekonomi kreatif di Batam kedepannya.

“Film Ramlie oii Ramlie ini kita angkat dari novel karya Yanis Alfata, film ini banyak menceritakan tentang budaya melayu yang sekarang mulai banyak dilupakan generasi muda,” katanya.

Dia berharap dengan film ini generasi muda bisa mengetahui beberapa budaya melayu yang mulai hilang dan memiliki niat untuk melestarikan budaya asli melayu Kepulauan Riau itu.

Selain itu, Hardi Selamat Hood anggota DPRD Provinsi Kepri yang juga ikut andil dalam project film Ramlie oi Ramlie mengatakan sosok Pie Ramlie yang menjadi cikal bakal film Ramlie oii Ramlie ini besar dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Namun Pie Ramlie tidak mudah menyerah dan selalu optimis dengan hasil yang ia kerjakan.

“Malam ini kita juga mulai dari kesulitan, modal nekat untuk bisa berkarya, tetapi kita juga harus optimis dengan apa yang kita lakukan, maka film Ramlie oi Ramlie tidak bisa dipungkiri akan menjadi film yang perlu diperhitungkan dan menjadi awal kebangkitan film melayu,” ungkap Hardi Hood.

Sementara itu, Yanis Alfata selaku penulis Ramlie oi Ramlie mengatakan jika isi dalam novel itu sebagian besar menceritakan tentang budaya melayu yang kini mulai hilang. Sebagai penduduk Jawa yang sudah lama menetap di Batam, dia tergerak juga untuk ikut melestarikan budaya melayu dengan tulisannya.

“Karena kita hidup ditanah melayu, maka budaya melayu perlu dikembangkan dan dilestarikan,”kata Yanis.

Dikatakan Yanis, dalam novel tersebut ia menulis salah satu tarian yang sudah sangat jarang diminati anak zaman sekarang, yaitu tarian Makyong. “Namun lewat novel yang akan di film kan ini, kita akan kembali melihat tarian budaya itu, dan semoga tulisan yang akan di visualkan ini akan menumbuhkan rasa peduli anak muda tentang budaya melayu,” jelasnya.

Dalam novel yang ia tulis, 65 persen merupakan muatan budaya melayu, 20 persen komedi dan 15 persen duka. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top