Mulya Rizki Buka Mapaba ke-XX Kota Pariaman

Armaidi Tanjung foto bersama dengan peserta Mapaba PMII ke-XX, Sabtu (14/4/2018).

PARIAMAN, Kepritoday.com – Mahasiswa sebagai  agen perubahan di tengah masyarakat  dituntut untuk dapat menjadi pelopor dalam perubahan perilaku hidup sehat. Banyak perilaku masyarakat yang masih mengabaikan perilaku hidup sehat.

Sehingga dari catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman, sekalipun sudah dilakukan berbagai kebijakan dalam pelayanan kesehatan, namun jumlah masyarakat yang mengalami penyakit terus meningkat.

Demikian  diungkapkan Sekretaris Forum Kabupaten Sehat (FKS) Kabupaten Padang Pariaman Armaidi Tanjung dihadapan peserta Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-XX, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin, Sabtu (14/4/2018) di Kampung Baru, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman.

Mapaba yang berlangsung dua hari, Jumat-Sabtu (13-14/4/2018), dibuka Sekretaris Pengurus Cabang PMII Kota Pariaman Mulya Rizki.

Menurut Armaidi, perilaku hidup yang tidak sehat, tidak saja mendatangkan penyakit bagi yang bersangkutan, namun juga bisa menular kepada orang lain yang masih dalam kondisi sehat. Kemudian orang yang sehat, setelah mendapat kiriman penyakit dari orang yang sakit tersebut, dirinya juga menderita penyakit yang ditularkan.

Armaidi mencontohkan, penyebaran penyakit akibat buang air besar sembarangan (BABS). BABS ini bisa dilakukan dengan buang air di aliran air seperti sungai, drainase maupun irigasi, di kolam ikan yang kotoran manusia dijadikan makanan ikan. Atau melalui aster alias asoi terbang (kantong plastik). Jika kotoran BAB dari orang yang mengalami penyakit tertentu di sungai/irigasi, maka orang yang mencuci, mandi atau memanfaatkan air di sepanjang aliran sungai itu bisa terjangkit penyakit yang dialami oleh orang BABS tersebut.

Menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta yang menyebutkan masih adanya warga yang membuang BAB ke sungai, Armaidi menyebutkan, mahasiswa sebagai agen perubahan dan pelopor di tengah masyarakat, harus mampu melakukan perubahan perilaku masyarakat yang masih BAB di sembarangan.

“Mahasiswa diminta turut merubah perilaku tidak sehat tersebut menjadi sehat. Mahasiswa sebagai orang berpendidikan, harusnya mampu menjelaskan kepada orang yang masih BABS agar membuat jamban (WC) di rumah masing-masing. Khusus di Kabupaten Padang Pariaman, awal Mei mendatang akan dideklarasikan   100 korong Open Defecation Free (ODF). Artinya, warga di 100 korong di Padang Pariaman tersebut sudah bebas dari buang air sembarangan. Setiap keluarga sudah memiliki akses terhadap jamban. Mereka tidak lagi BABS ke sungai, irigasi, kolam ikan atau kantong plastik,” kata Armaidi yang juga penulis buku ini.

Armaidi juga menambahkan, masih ada 493 korong lainnya yang masih belum bisa ODF.  Mahasiswa dapat berperan aktif agar korong yang belum ODF tersebut bisa secara bertahap bebas dari BABS.

“Perilaku BABS tidak saja disebabkan kurangnya sarana prasarana jamban, namun terkait dengan perilaku manusianya. Meskipun dibangun jamban umum, namun kurang dimanfaatkan. Hal ini disebabkan perilaku masyarakatnya yang masih merasa nyaman buang air besar di sungai atau di kolam,” kata Armaidi yang juga Penerima Mandat PMII Kota Pariaman ini.

Ketua Panitia Mapaba PMII Maidison Edi Putra menyebutkan, Mapaba berlangsung sejak Jumat (13/4/2018) hingga Sabtu (14/4/2018) malam.

Mapaba bertema, “Menggagas Citra Mahasiswa Intelektual, Progresif dan Pluralis melalui Jalur Pergerakan Mapaba.” Peserta berasal dari mahasiswa STIT Syekh Burhanuddin yang beralamat di Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman. (Doyx)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top