Kasus Human Trafficking Batam Jadi Perhatian Gubernur Jabar

Eni Rosiani, SH, Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3AKB), Provinsi Jawa Barat, saat di konfirmasi media kepritoday.com, terkait human trafficking di Batam.

BATAM, Kepritoday.com – Mencuatnya kasus dugaan human trafficking,eksploitasi anak di bawah umur dan pelecehan sexual oleh oknum suhu,yang hingga saat ini proses hukumnya sedang ditangani oleh Polresta Barelang menjadi perhatian pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurut Eni Rosiani SH selaku Bidang Pemberdayaan Perempuan Anak Dinas Pemberdayaan dan Pemberdayaan Perempuan Anak Dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat mengatakan,”Atas laporan dari ketua Paguyuban Pasundan pasundan Kepri,Dede Suparman karena kita juga kerjasama dengan Paguyuban Pasundan,kita merespon adanya dugaan trafficking,eksploitasi anak di Batam,karena kita dikasih tenggang waktu satu minggu untuk menampung korban tersebut, kita di pemberdayaan perempuan ini ada anggaran untuk pemulangan korban trafficking,”

“Gubernur Jabar sangat konsen sekali terhadap perlindungan anak dan perlindungan perempuan dimana pun itu warga jawa barat kalau dia minta pulang karena terekspoitasi atau terjadi kekerasan terhadap perempuan, maka harus dijemput,”kata Eni saat memberikan keterangan persnya pada Selasa (05/09/2017) di Bandung Resto Batam Center.

“Ini adalah sisi kemanusiaan dari Pemprov Jabar walaupun nanti korban balik lagi tidak masalah yang penting kita harus menjemput apapun yang terjadi. Dan ini sudah tanggung jawab pemerintah untuk melindungi masyarakat atau warganya,”kata Eni.

“Tiap tahun kita menganggarkan dana untuk penjemputan korban eksploitasi anak,tapi sesuai dengan target biasanya seperti tahun lalu targetnya empat puluh dan untuk sekarang kita tidak tahu ya,karena kadang-kadang ada korban trafficking bulan ini,jadi sesuai yang di pulangkan saja,”jelasnya.

Eni menambahkan,memang yang sering itu dari Kepri ya karena memang ada perusahaan yang mereka untuk bekeja dan berpenghasilan tinggi.

“Ketika korban ini di jemput,tidak langsung di kembalikan ke orang tua masing-masing,namun kita rehabilitasi di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak ( P2TP2A) untuk di periksa kesehatan nya,ada bimbingan dan pemulihan mentalnya,baru nanti kemudian di jemput oleh kabupaten atau kota yang bersangkutan,”tambahnya.

“Untuk pemulangan rencana hari kamis ya,kita di kasih waktu penjemputan itu tiga hari,jadi tugas penjemputan itu langsung dari provinsi,”katanya lagi.

“Bila nanti si korban ini di mintai keterangan,biasanya itu ada dari Polres atau Polda di bidang Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) nya yang memberita acarakan mereka,kita hanya mendampingi saja terkait hukum nya itu sudah menjadi urusan kepolisian.”tutupnya. (Budi/Oscar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *