Kadinsos Lebak Banten Serahkan Korban Dugaan Trafficking Kepada Keluarganya

Poto bersama Kadinsos Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, bersama keluarga korban dan aparat desa setempat.

BANTEN, Kepritoday.com – D alias J (13)dan L (14) yang menjadi korban dugaan trafficking, eksploitasi anak hingga pelecehan seksual oknum suhu Vihara Purnama Mahayana Nongsa Batam, Yo Chu Hi alias Hendra, sudah diserahkan kepada keluarganya di Banten. Pada hari Rabu (07/09) sekitar pukul 24.35 wib,di gedung Pendopo Kabupaten Lebak Banten. Dan saat di pertemukannya korban dan keluarga isak tangis pun meledak,suasana haru menyelimuti Pendopo tersebut.

D alias J (13 tahun) adalah penduduk Baduy, Desa Kanekes,dan Lis (14 tahun ) penduduk Kp. Pasir Eurih, Desa/Kecamatan Sobang. Serah terima ini dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak, H. Eka Darma Putra, SPd. MM,disaksikan oleh Camat Leuwidamar, Endi Suhendi, Camat Sobang, Yadi Basyari, Kades Kanekes, Saija, Babinsa dan kerabat keluarga korban.

Kedua anak korban pelecehan seksual dan di duga  akan dijadikan  “Human Trafficking” itu  di jemput Tim dari Pemda Lebak, Banten,  yang terdiri dari Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak, H. Eka Darma Putra,  Ketua P2TP2A Lebak, Ratu Mintarsih dan Pengurus Paguyuban Pasundan di Banten, H. Edy Murpik.

Ketiga orang ini bertolak ke Batam, sesuai dengan perintah Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya, setelah memperoleh informasi  warganya menjadi korban dan berada di Kota Batam, Provinsi Kepri.

Ketiga orang Tim dari Pemda Lebak, bertolah ke Batam, Selasa (5/9) setelah memperoleh informasi dari Ketua Peguyuban Pasundan Kepri Dede Suparman, yang disampaikan kepada Paguyuban Pasundan di Banten dan kembali  ke Lebak pada hari Rabu (7/9), dan tiba di kota Rangkasbitung pada malam hari dan korban langsung diserahkan kepada keluarga korban yang sudah menunggu sejak pagi hari.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak, H. Eka Darma Putra, saat menyerahkan kepada keluarga korban mengatakan, bahwa Pemda Lebak  bersama P2TP2A Lebak, sudah berhasil menyelamatkan secara fisik  anak-anak yang menjadi korban,”

“Penyelematan ini, juga berkat adanya kerjasama  yang sangat baik dengan Paguyuban Pasundan di Batam Kepri, aparat Polresta Barelang, yang telah berhasil menyelamatkan anak-anak dibawah umur yang telah menjadi pelecehan seksual dan dugaan “human trafficking,”kata Eka Darma Putra.

Eka Darma Putra, menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Polres Barelang, Kepri dan Paguyuban Pasundan di Batam, yang begitu cepat menangani kasus ini, sehingga korban secara fisik bisa diselamatkan. “ Saya berharap kepada Polres Barelang, agar kasus ini di usut sampai tuntas, dan pelaku diberikan hukum yang setimpal”, jelasnya.

Menurut Eka Darma Putra, setelah menyerahkan  kepada keluarga, pihaknya juga akan melakukan upaya conselling bersama P2TP2A  Kabupaten Lebak, bagaimana agar anak yang menjadi korban ini bisa  pulih baik secara fisik maupun fhysikis. Kita akan berikan latihan dan keterampilan, sehinga kedepan bisa melakukan kegiatan usaha  yang mandiri.

Selain itu, Eka Darma, juga meminta kepada keluarga dan masyarakat Kabupaten Lebak untuk tidak mudah percaya kepada orang yang menawarkan pekerjaaan dengan janji  gaji yang besar.  “Kalau mau kerja, melalui jasa tenaga kerja yang resmi dan perusahaan yang legal”, jelasnya.

Pulung (50 tahun) tahun orang tua  D alias J, penduduk Sorokokod, Kanekes, menyampaikan dengan logat bahasa khas Baduy; “ ngaing mah ngan bisa ngucapkeun nuhun, ka bapa-bapa anu geus nyalametkeun anak ngaing ( saya hanya bisa menyampaikan terimakasih kepada bapak yang sudah menyelematkan anak saya-red)”, tuturnya sambil menangis.

Mengasingkan diri Suku Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak,  Banten, sekitar 75 km dari kota Rangkasbitung, merupakan salah satu suku di tatar sunda yang hidupnya mengasingkan diri dari dunia luar. Sejak sebutan suku Baduy ada pada abad ke-15 yang silam sampai sekarang menetap di kaki Pegunungan Kendeng, pada areal sekitar 5.025 hektar.

Seperti halnya, Kampung Sorokokod. Perkampungan ini berada di pegunungan kendeng. Dari Ciboleger, yang merupakan pintu gerbang, untuk menuju perkampungan ini harus menempuh perjalanan kaki selama  5 jam dengan kondisi jalan naik yang terjal dan jalan menurun  yang curam. Jika kondisi perjalanan sedang naik, orang disana menyebut tanjakan tembong kanjut (terliat milik laki-laki) dari bawah, karena terjalnya jalan yang naik.

Jika yang lain  berada dibelakang, maka dia akan bisa melihat “kepunyaan” yang sedang menanjak didepanya.

Wilayah suku Baduy di Desa Kanekes, ada 35 perkampungan (Penamping). Dari jumlah perkampungan tersebut, tiga kampung  disebut  Baduy Jero (Baduy Dalam).  Kelompok Baduy  Dalam ini cirinya memakai jamang dan totopong (pakaian dan ikat kepala putih).

Mereka masih sangat kuat memegang teguh adat leluhur seperti; di larang bersekolah, di larang hidup mewah, di larang memiliki sesuatu yang dianggap modern, seperti alat elektronik. Rumah tempat tingga; yang dibangun dilarang menggunakan paku. Sambungan antara tiang dengan tiang menggunakan “kancing” atau “pasak” dari kayu dengan atap rumbia.

Masyarakat pedalaman Baduy ini, hidup harus apa adanya, panjang teu beunang di potong pondok teu beunang disambungg (panjang tidak boleh di potong, pendek tidak boleh disambung). Hidup berganrtung pada  kemurahan alam yang dihasilkan dari berladang di huma.

Sementara 32 warga di perkampungan lainya di sebut Baduy Luar. Cirinya memalai pakaian hitam. Kelompom ini sudah dianggap “murtad” oleh kelompok Baduy Dalam. Sudah tidak taat kepada ajaran agamanya, sunda wiwitan.

Masyarakat Baduy Luar, sudah sedikit membaur  dengan masyarakat perkampungan dan perkotaan. Mereka ada yang  memeluk ajaran agama Islam, ada yang sudah bisa mengenal baca tulis, memiliki pernagkat komunikasi (HP), memiliki TV dan peralatan lainya,

Namun begitu,  setiap ahir tahun para pejabat dari Baduy Dalam, menjelang Kawalu (puasa) sebagai persiapan melakukan upacara adat seba kepada Pemerintah Daerah, para pejabat  adat dari Baduy  Dalam  melakukan razia, pembersihan  dengan cara dimusnahkan peralatan yang dimiliki oleh kelompok Baduy Luar. (Ain/Osr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *