|
Mampu Hasilkan Rp7 Juta per Bulan
Batam (BCZ) Profesi satu ini mungkin tak pernah lekang oleh waktu. Kehadirannya
selalu dibutuhkan, saat anggota tubuh merasa pegal atau keselo.
Tukang pijit tradisional tetap eksis di saat gempuran berbagai aneka jasa masage yang hadir di mal, ruko hingga bandara dan pelabuhan. Salah satunya E Susilo Hadi yang masih menekuni profesi yang akrab dengan ”minyak goreng” tersebut.
Kemampuannya ”membetulkan” tubuh (urat, tulang, organ tubuh lain pasien), membuat hidup Susilo relatif mapan dibandingkan tukang urut lainnya. Tiap hari, dia bisa melayani empat orang pasien. Rata-rata pasien memberi Rp100 ribu. Sehari Rp400 ribu. Sebulan sekitar Rp12 juta masuk kantong. Paling kecil, Rp7 juta didapatnya. Ini tidak termasuk pasien yang ”ditolak” karena lokasinya jauh, atau pelit memberi upah.
Dari uang ini, Susilo bisa berganti-ganti ponsel terbaru hingga berganti-ganti mobil. Satu unit mobil Karimun warna kuning gading, dan satu unit Honda. Sayangnya, dua mobil itu dijual September 2006. Uangnya ditabung saja. Susilo mengatakan berat di bensin.
”Enak pakai motor. Murah,” kata Susilo di Musola Arahman.
Uang jasa dari pasien, membuat Susilo, hampir tidak penah kesulitan uang. Bahkan, dia mampu membayar uang muka Rp50 juta, untuk membeli satu unit rumah di Blok B No.8 di Perumahan Villa Mas Seipanas.
”Baru-baru ini, dari beberapa kali pengobatan, saya mendapat total Rp10 juta dari seorang pasien,” katanya. Kalau uang jasa Rp1 juta kontan untuk keseluruhan mengurut (sampai sembuh), bagi lelaki berambut ikal ini sudah tak terhitung lagi.
Dari kerjanya, ia pun bisa meminang Delmayeni pada 22 Juli 2006. Pesta pernikahan pun menghabiskan Rp20 juta dari kantongnya sendiri. Kini dari buah pernikahnya telah dikaruniai seoerang bayi Hafsatun Naila (1,2 tahun). Saat sang istri pun tengah hamil 9 bulan.
Saat ini dia tercatat mahasiswa semester 6 di Fakultas Hukum, Universitas Batam.
”Dengan pendidikan, ilmu pengetahuan dan pergaulan jadi bertambah. Nabi saja mengatakan, utlubul ilma walau bishin. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Atau, tuntutlah ilmu dari mulai ayunan sampai liang lahat (mau mati),” kata Susilo.
Sebagai imam di Masjid Arrahman Baloi Kusuma, Susilo tetap rajin mengirimkan uang ke orang tua, bahkan untuk biaya kuliah dua adiknya. Dia juga bisa membangun rumah, berikut isi perabot rumah orang tuanya. Susilo juga membantu kakaknya, Saiful, menikahi seorang gadis di kampungnya, kemudian memberikan tiket agar kakak dan iparnya itu bisa kembali lagi ke Batam. Tiba di Batam, dia juga membantu membangunkan satu unit rumah liar di depan hotel Oasis.
Kenal dengan Susilo banyak manfaatnya. kita banyak belajar dan melihat, bagaimana berakhlak lebih baik menurut tuntunan Islam. Penuh sopan santun, dan berupaya untuk jujur. Watak ini mungkin sudah bawaan, ditambah Susilo banyak bergaul dengan para ustadz dari Persatuan Mubalig Batam (PMB).
Pada tahun 2003 Susilo menyewa di satu kamar ruli depan hotel Oasis Jodoh. Orang kenal dan berlangganan karena kemampuannya soal seluk beluk urat yang ada di kaki, tangan, kepala, perut dan rahim.
Seorang pedagang gorengan di Tanjungpantung Jodoh, Halimah menyebutkan, 90 persen pasien kenal dengan Susilo, berawal dari informasi mulut ke mulut. Sisanya, kenal langsung dan datang ”klinik” formalnya, di ruli depan Hotel Oasis Jodoh. Di klinik itu hanya ada kamar berukuran dua kali satu setengah meter, berdinding triplek, beralaskan lantai semen yang ditutupi karpet plastik.
Kemampuannya mengurut juga pernah dirasakan, penulis saat merasa kulit tangan kiri keram-keram. Susilo menengok kondisi tangan ini. Dengan minyak kelapa dicampur dengan hand body, tangan sakit diurut-diurut. Menurutnya, darah di tangan tersumbat, dan tidak lancar. Esoknya, tangan yang diurut itu merah seperti habis terbakar. Sepekan lamanya, warna merah itu dikulit. Hari ke-8, warna kulit kembali normal.
Susilo juga bisa mengurut supaya perempuan yang ingin memiliki anak bisa hamil. Ini pernah dialami Dewi. Hanya tiga kali urut, Dewi kemudian hamil. Satu bulan usai diurut, Dewi Asriani hamil.
Ketika mengurut pasien, dia tidak pernah menjanjikan akan mampu mengobati. ”Sembuh itu harapan. Kesembuhan itu ada di tangah Allah. Saya hanya sebagai perantara. Kita berdoa bersama. Minta kepada Allah. Jangan berpikir, kesembuhan yang didapat pasien karena saya,” kata Susilo.
Rasa syukur juga diungkapkan oleh Novialdi. Dia seorang atlet nasional, sekaligus karateka Batam. Dia mengeluhkan kakinya. Dua kali urut, senyum Novialdi yang juga Pengurus Forki Batam dan guru guru Bandung Karate Club (BKC) ini mengambang. ”Sudah sehat. Tak sakit lagi. Tendangan saya sudah tinggi lagi kini,” kata Novialdi sambil tersenyum.
Sangat wajar bila Susilo punya pemasukan antara Rp7 juta sampai Rp12 juta sebulan. Kegigihan dia bekerja pantas dihargai. Siang malam dia bekerja. Ketika ada panggilan pasien, dan hanya pukul 24.00 dia sempat, maka, di waktu itulah dia meninggalkan Masjid Arrahman. Memang berjerih payah. Tapi ada hasilnya secara materi. Kalau lancar, 2009 ini dia akan bergelar Sarjana Hukum. Semua dari mengurut. (BP)
|