|TV News | RSS |  
Bursa Kerja
OFFSIDE
FEATURED BLOGGERS
KOLOM CAKAP BOLA
  • by

    Ade Adran Syahlan
Google
BISNIS MALL
Dalam mengatasi pelaku pelanggaran lalu lintas, Polantas tidak akan langsung memberikan surat tilang, melainkan surat peringatan terlebih dulu.
Today's Must-Reads
Cukupkah Sumber Air Bersih Kita? (bag-1)
Kamis, 5 Juni 2008 | 10:28:57
Oleh: 
Binsar Tambunan
Kabid Perencanaan Lingkungan
Otorita Batam

Air adalah sumber daya alam dinamis, yang selalu bergerak melalui daur hidrologi yang abadi. Bumi banyak sekali memiliki air, tetapi hanya 2,5  persen yang berupa air tawar (97,5  persen adalah air asin). Hanya 0,3 persen dari air tawar yang terdapat di bumi berupa air permukaan di danau, telaga, waduk, situ, dan sungai yang dapat langsung dimanfaatkan oleh manusia.


Secara makro ketersediaan air di Indonesia sangat melimpah, tetapi tidak merata secara ruang dan waktu. Menurut data Puslitbang Sumber Daya Air Departemen PU, wilayah Papua mempunyai ketersediaan paling banyak yaitu 25.500 m3/kapita/tahun, sedangkan pulau Jawa paling sedikit hanya 1.600 m3/kapita/tahun. Pulau Jawa yang luasnya hanya 7 persen dari daratan Indonesia hanya memiliki 4,5 persen potensi air tawar seluruh Indonesia, tetapi harus menopang 65 persen penduduk Indonesia. Sehingga, saat ini kondisi pulau Jawa telah sangat rawan dalam hal ketersediaan air.


Angka kebutuhan minimal air untuk manusia menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan suatu negara. Kebutuhan air rata-rata kota besar dan kota kecil berbeda. Kota metropolitan dunia kebutuhan air rata-ratanya antara 300 – 600 ltr/org/hari, kota metropolitan seperti Jakarta sebesar 220-240 ltr/org/hari, kota kecil-menengah sebesar 100-150 ltr/org/hari.


Badan dunia UNESCO tahun 2002 menetapkan hak dasar manusia atas air yaitu sebesar 60 ltr/org/hari. Walaupun angka ini tidak besar, namun saat ini lebih dari separoh penduduk dunia belum dapat menikmati kebutuhan dasar ini.


Dalam pengembangan dan pembangunan  pulau ’’kecil’’ (seperti  Singapura, Batam, Bintan, dan Karimun ), strategi ketersediaan air bersih  merupakan hal yang  sangat penting  mendapat prioritas. Hal ini mengingat pembangunan yang pesat di kawasan ini  mengakibatkan meningkatnya jumlah kebutuhan air bersih untuk kelangsungan kehidupan dan kegiatan perkotaan.
Strategi ketersediaan air bersih  menjadi penting dan prioritas dikarenakan dua kondisi yang menjadi batasan  sekaligus tantangan dalam pengelolaan air di pulau  kecil. Pertama yaitu kondisi bahwa daya dukung ekosistem pulau kecil memiliki keterbatasan dalam ketersediaan  sumber air baku. Kedua yaitu kondisi  masih relatif mahalnya investasi  teknologi dan biaya operasi  instalasi pengolahan air.


Strategi Ketersediaan Air Bersih  tidak dapat dipisahkan dari 4 aspek yang wajib dipenuhi, yaitu : 
Pertama, aspek kualitas (standar baku mutu air yang layak digunakan).
Kedua, aspek kuantitas (standar jumlah air untuk memenuhi  kebutuhan).
Ketiga, aspek Kontinuitas (standar  kesinambungan ketersedian  air setiap saat).
Keempat, aspek Kemampuan ekonomi (standar  kemampuan daya beli pengguna air/masyarakat).
 Saat ini negara pulau Singapura yang dikategorikan sebagai negara maju dan kota metropolitan dengan luas wilayah 700 km2, jumlah populasi penduduk 4,5 juta jiwa, rata-rata total kebutuhan air  telah mencapai  21.000 ltr/dtk atau 1,8 juta m3/hari.
Sedangkan untuk pulau Batam dengan luas wilayah  420 km2, jumlah populasi penduduk 700 ribu jiwa, saat ini rata-rata total kebutuhan air mencapai  2200 ltr/dtk atau 190.000 m3/hari.


Adapun kebutuhan air  bersih untuk Pulau Batam disediakan dari waduk atau reservoar sebagai berikut :
Pertama, waduk Sei Baloi, operasi  tahun 1978, kapasitas disain 30 ltr/dtk
Kedua, waduk Sei Nongsa, operasi  tahun 1979, kapasitas disain 60 ltr/dtk
Ketiga, waduk Sei Harapan, operasi  tahun 1984, kapasitas disain 210 ltr/dtk
Keempat, waduk Sei Ladi, operasi tahun 1986, kapasitas disain 240 ltr/dtk
Kelima,  waduk Sei Mukakuning, operasi  tahun 1991, kapasitas disain 310 ltr/dtk
Keenam,  waduk Duriangkang, operasi  tahun 2001, kapasitas disain 3000 ltr/dtk
Ketujuh, rencana Waduk  Tembesi, rencana operasi  tahun 2011, kapasitas disain 600 ltr/dtk
Berdasarkan studi oleh LAPI ITB pada tahun 2000 dan kajian yang dilakukan oleh Otorita Batam mengenai kebutuhan air dan ketersediaan sumber air,  diperkirakan pada tahun 2012 di Pulau Batam  akan mengalami  kondisi  kritis ketersediaan air waduk.  Hal ini terjadi karena  pada tahun 2012 perkiraan jumlah kebutuhan air bersih kota Batam akan mencapai.
Jumlah ini setara dengan perkiraan jumlah air yang dapat disediakan oleh 6 buah waduk yang telah beroperasi  (3850 ltr/dtk) ditambah waduk Tembesi  (600 ltr/dtk) yang akan dibangun.


Timbul pertanyaan bagaimana Strategi pemenuhan kebutuhan air setelah tahun 2012 untuk Pulau Batam? Mengapa Batam tidak membangun waduk dan reservoar alami lain sebanyak-banyaknya, atau membuat waduk estuari lain seperti Duriangkang dan Tembesi? Apakah perlu segera memulai terminologi baru yaitu memproses air limbah menjadi air bersih, membangun pengolahan air laut (desalinasi), atau mengimpor air baku dari pulau yang surplus air seperti Pulau Bintan atau dari Riau daratan. Seperti sungai Kampar misalnya?


Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas akan strategi yang akan dipilih dan dikembangkan di Kota Batam dalam menjamin ketersediaan air bersih ke depan, kita dapat mempelajari strategi dan pengalaman yang sudah, sedang dan akan dilakukan Negara Pulau Singapura untuk mengamankan ketersediaan airnya.
Strategi Ketersediaan Air Bersih Negara Pulau Singapura:


1. Sumber Air Impor
Singapura semula adalah bagian wilayah dari negara  Malaysia. Sebelum berpisah dengan Malaysia pada tahun 1965 , untuk memastikan dapat bertahan sendiri akan ketersediaan airnya Singapura membuat 2  (dua) perjanjian  tentang air dengan pemerintah Johor  Malaysia, dimana perjanjian ini  juga merupakan bagian dari perjanjian Merdeka Negara Singapura.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Singapura dapat membeli air baku sampai 250 juta gallon perhari (13.154 ltr/dtk)  dari Johor  dengan harga  3 sen Sin $ per 1000 gallon (sekitar Rp 42,9/m3). Dimana pemerintah Singapura harus menjual kembali air bersih sebanyak 12 persen dari jumlah air baku yang dibeli, dengan harga 50 sen Sin $ per 1000 gallon (sekitar Rp 715/m3).  (bersambung)


 
MM Research Polls
Mampukah Pemerintah Indonesia Mengatasi Krisis Ekonomi?
Lebih Burukkah Krisis Tahun Ini Dibandingkan dengan 1997 Yang Lalu?
Jenis Kelamin Anda
Batam Pos
Batam Pos
Posmetro
Batam TV
Graha Pena
Ripos Bintana
Batam News
Matrix Consultant
Internasional
  • Adelaide (BCZ) Tiga orang wanita muda mengadakan aksi demonstrasi dengan tidak mengenakan sehelai benangpun di luar restoran KFC di Adelaide, Australia.
    Nairobi (BCZ) Bajak Laut Somalia berusaha melakukan upaya pembajakan kembali, namun kali ini kapal yang mereka incar merupakan sebuah kapal pesiar.
Real Estate
  • Perumahan Bukit Surya Indah (BSI) Residence yang dibangun PT Putera Karyasindo Prakasa (PKP), membuat program khusus selama Ramadan. Bagi konsumen yang membeli rumah di BSI, akan diberikan ketupat BSI senilai Rp 10 juta. Menariknya, untuk mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR), konsumen cukup...
    BATAM —Ketatnya bisnis properti di Batam, membuat pengembang dituntut kreatif untuk memasarkan produknya. PT Kurnia Djaja Mukmur Abadi misalnya, membebaskan biaya legalitas kepemilikan rumah untuk konsumennya yang membeli rumah di Kurnia Djaja. Saat ini, Kurnia Djaja sedang menjual...


Portal News
Surat Kabar
Majalah
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Copyright 2008 - Batam Cyber Zone. All rights reserved. Best View : 1024 x 768 with Firefox
About Us | Advertise with Us | Subscribe | Contact Us