|
Batam (BCZ) Rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) akan
berdampak terhadap peningkatan biaya di berbagai sektor. Tidak hanya
biaya kebutuhan pokok yang akan meningkat, sektor-sektor lain juga
dipastikan akan terpengaruhi.
Salah satu sektor yang akan merasakan dampak langsung kenaikan BBM adalah sektor transportasi, termasuk transportasi laut atau kapal. Pihak pengusaha dan pengelola kapal sudah menyatakan akan menaikkan harga tiket, jika kenaikan BBM itu direalisasikan.
Koordinator INSA (Indonesian National Shipowner's Assosiation) khusus Pelabuhan Domestik, Asmadi mengatakan, menaikkan tarif akan menjadi pilihan pahit yang harus dijalani. Jika tidak, mereka tidak akan sanggup lagi mengoperasikan kapal, karena kenaikan BBM yang terjadi pada Juni mendatang mencapai 30 persen.
"Satu kali berangkat kapal, untuk tujuan Dumai saja bisa menghabiskan minyak 3 ton. Tentu saja, kenaikan harga BBM itu akan sangat terasa bagi pengusaha kapal,'' kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pelra Batam ini.
Diakuinya, sampai saat ini rencana kenaikan BBM itu belum final. Oleh karena itu pula, sejauh ini pihaknya belum membicarakan rencana kenaikan itu. "Tapi terus terang, kalau BBM naik, mau tak mau, ongkos kapal harus dinaikkan," terangnya.
Apalagi, tambahnya, dengan naiknya BBM nanti, akan berdampak pula pada pengurangan penumpang. Biasanya, hal seperti akan selalu terjadi. Karena warga akan memperkecil pengeluarannya, termasuk dalam hal melakukan perjalan dengan menggunakan transportasi laut.
Di lain sisi, menyambut rencana kenaikan BBM ini, Asmadi teringat pula akan protes yang mereka sampaikan dahulunya ke DPRD Batam dan Disperindag. Sampai sekarang, menurutnya, tidak ada realisasi pertemuan itu, meski sudah menunggu waktu hampir satu tahun.
Saat itu, protes yang mereka sampaikan ke DPRD dan Disperindag adalah penetapan cas oleh Hiswana Migas untuk pengangkutan BBM ke SPBB (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker) di Sekupang. Alasan mereka, dari Depot minyak di Pulau Sambu tak seberapa jauh ke Sekupang, akan tetapi disamakan dengan tempat lain seperti di Tanjung Pinang.
"Uang cas ke Sekupang dari Pulau Sambu dengan ke tempat lain yang lebih jauh sama, itu yang kita minta ditinjau ulang," ujarnya.
Untuk pengangkutan BBM, pihak Hiswana Migas menetapkan uang cas senilai Rp160 per liter. Hingga, pembelian mereka ke SPBB menjadi Rp4.460 dari HET yang ditetapkan Rp4.300 untuk solar.
Ada dua SPBB di Sekupang yang disuplay dari Pulau Sambu dengan masing-masing 15 ton per hari. "Hitung saja, berapa banyak uang cas itu dalam satu hari," katanya. Padahal, menurut dia, kalau uang cas itu dikurangi, misalnya Rp60, maka kenaikan BBM akan bisa sedikit diatasi. "Tapi saya dengar, Hiswana Migas sudah ada yang "nyetor" ke dewan," tambahnya lagi.(BN/lae)
Berita terkait:
|