|
BATAM - Warga Perumahan Tiban Ayu, Kelurahan Tiban Lama, Sekupang
mengadukan masalah ketidaklancaran air ATB di daerah mereka ke DPRD
Kota Batam, kemarin. Tak tanggung-tanggung, 198 KK di perumahan ini
telah bersabar selama lebih kurang tiga tahun.
Ketua RW setempat (RW 14) Herbudi yang datang bersama warga menyebut, kalau pun air mengalir, hanya beberapa jam saja. Itu pun tengah malam. Warga yang telah mendengar janji-janji ATB dan kasus serupa sebelumnya, meminta agar ATB tak lagi memberi alasan.
Manajer Perencanaan ATB Ari Gudadi yang mewakili ATB siang kemarin mengatakan, pangkal persoalan air ini adalah elevasi atau ketinggian daerah Tiban Ayu. Ketinggian Tiban Ayu, katanya, 30-50 meter di atas permukaan laut. Sedangkan ketinggian tanki air pemasok air ke perumahan 65 meter saja. Akibatnya, beda elevasi hanya 15 meter atau setara dengan 1,5 bar tekanan air. ”Makanya air susah mengalir ke rumah,” jelas Ari.
Beberapa kali, ATB melakukan penutupan di beberapa aliran air, namun tetap sulit masuk ke Tiban Ayu. Langkah ini, hanya mampu menaikkan tekanan air sekitar 0,52 bar. Sebaliknya, air justru mengalir penuh ke Tiban Kampung yang rata-rata ketinggiannya daerahnya 10 meter di atas permukaan laut.
Air di perumahan yang terdiri dari 2 RT ini bisa mengalir jika banyak aliran air ditutup, bahkan untuk daerah Mekar Sari. ”Tapi ini kan membawa dampak luar biasa (bagi daerah lain),” katanya.
Namun warga bersikukuh itu tanggung jawab ATB. ”Jangan kami didenda kalau terlambat, tapi kewajiban ATB mana?” kata warga. Pimpinan rapat dengar pendapat (RDP) Zakaria turut menekankan, masalah seperti ini bukan pertama terjadi. ATB harus beri solusi. ”Jangan sampai ini menjadi Tanjung Riau sesi 2,” katanya.
Meski tak ingin dianggap mengulang kesalahan, Ari mengatakan upaya ATB di Tiban Ayu, akan sama dengan upaya ATB mengatasi masalah Tanjung Riau.
Dalam hal ini, ada dua rencana solusi, jangka pendek dan panjang. Jangka pendek, ATB membangun tangki bawah tanah dan melengkapinya dengan pompa. Namun kendalanya, ATB perlu izin OB sebab harus membangun di daerah Tiban Centre.
Sedangkan untuk jangka panjang, ATB berencana memanfaatkan tangki Seiladi yang ketinggiannya mencapai 98 meter di atas permukaan laut. Persoalannya, tidak ada saluran dari Seiladi ke Tiban Ayu. Pipa terputus sampai Southlink. ”Dan kalau kita buat terusannya ke Tiban Ayu, warga Jodoh yang terancam,” katanya.
Menunggu sampai solusi mana yang paling memungkinkan, ATB sudah mulai membagikan tangki air berkapasitas sekitar 50 liter kepada warga secara gratis. Namun warga masih keberatan. Pasalnya, pembagian tak bisa dilakukan untuk semua warga sekaligus, melainkan bergantian. Akibatnya warga tetap harus menanti air hingga dini hari.
Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Ari memutuskan akan mengalirkan air di derah ini pada siang hari. Dengan konsekuensi, pada jam itu, banyak aliran air di daerah lain yang ditutup. (ary)
|