|
Tim Robot Politeknik Batam Menuju KRI 2008
Batam (BCZ) NAMA Transformer sendiri diambil dari film produksi Hollywood yang menceritakan soal kehebatan robot.
Ini yang mengilhami anggota tim Robot Politeknik Batam, Viky Husein,
Riski Fitrayadi, Tanu Dwitama, Andi, dan Yayan Fitrian untuk membuat
Transformer versi mereka yang terdiri dari satu robot manual dan
tiga robot otomatis.
”Maknanya, pada robot itu ada perubahan teknologi dari robot yang tahun
lalu,” ujar Pembimbing tim Robot Politeknik Batam Hendawan Soebakti
(28) di laboratorium Robot Politeknik Batam.
Ketika Batam Pos datang ke laboratorium itu, kemarin, robot manual
teronggok di pinggir lapangan yang merupakan arena bermainan robot itu.
Di depan robot manual, ada satu salah satu robot otomatis yang diberi
nama Bumblebee. Sementara anggota tim Robot Politeknik sedang
istirahat.
”Pindahkan ini ke sana,” kata Hendawan sembari menunjuk Bumblebee dan
memerintah salah satu anggota tim robot untuk memindahkannya ke pojok
lapangan yang berwarna hijau itu.
Menurut Hendawan, robot yang telah menelan biaya Rp15 juta itu
mulai dikerjakan lima anggota robot Politeknik Batam sejak Januari
lalu. Robot itu memang dipersiapkan untuk KRI 2008 Regional di
Pekanbaru dan KRI Nasional di Jakarta. Mereka mempersiapkannya secara
matang. Namun tidak mudah mewujudkan robot itu karena beberapa alat
yang dibutuhkan tidak ada di Batam.
”Kita sempat kesulitan bahan. Dicari di Batam tidak ada,” ungkap dosen Teknik Elektro Politeknik Batam ini.
Bahan-bahan yang sulit ditemukan diantaranya adalah baterai kering 12
volt yang berukuran kecil dan konversi geer yang harus didatangkan dari
Surabaya. Bahkan beberapa alatnya, terpaksa menggunakan alat bekas dari
mesin fotokopi, seperti pulley dan belt, serta motor DC. Mereka berburu
alat itu ke tempat penjualan mesin fotokopi bekas.
Untuk mengerjakan robot-robot itu Viky dan kawan-kawan mulai setelah
kuliah pukul 17.00 WIB. Mereka bekerja hingga larut malam. Karena
semangat yang besar dan target harus selesai, mereka sering menginap di
laboratorium untuk menyelesaikan robot itu.
”Mereka sering sampai terkantuk-kantuk. Kalau saya, biasa membimbing
mereka jam sebelas malam (pukul 23.00 WIB),” kata alumni ITN Malang ini.
Selama mengerjakan robot, selain kesulitan bahan, beberapa kali tim
robot Politeknik Batam menghadapi tantangan. Setelah dikerjakan,
ternyata saat dites, robotnya tidak bisa jalan. Sampai-sampai
robot manualnya harus diganti dua kali. ”Sering trouble shooting,”
ungkap Riski.
Padahal, robot itu sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih dari
pendahulunya. Robot Transformer ini menggunakan mikrokontrol Alf and
Vegards Risc (AVR) yang sedang tren digunakan saat ini. Kecanggihan
lainnya, menggunakan sensor yang bisa di-setting. Sementara untuk
mengendalikan motor, robot Transformer menggunakan pulls wide
modulation.
”Sistem ini mengendalikan kecepatan motor,” jelas Hendawan lagi.
Sesuai tema yakni Robot Panjat Pinang, robot yang dibuat para mahasiswa
Politeknik Batam ini mampu memanjat. Dalam bekerja, robot otomatik
saling bekerja sama dengan robot manual untuk meraih kubus atau obyek.
”Jadi robot manual itu menggendong dan mengangkat robot otomatik.
Seperti panjat pinang, saling mengangkat lalu yang paling atas
mengambil obyek di tiang,” terang pria yang sejak 2004 menjadi dosen di
Politeknik Batam ini.
Di banding robot tahun lalu yang diberi nama Gazero, robot Transformer
lebih canggih. Tema tahun lalu adalah Pencarian Pulau Komodo. Sehingga,
robot harus mencari obyek dan meletakkannya. Lapangannya, berbentuk
sarang laba-laba.
Sementara tahun ini, arena berbentuk bujur sangkar dan kotak-kotak.
Lapangan itu dibuat sendiri dan menelan biaya Rp15 juta. Robot
Transformer bekerja sama mengambil obyek yang sudah ada. ”Yang sekarang
ini lebih canggih. Ada banyak teknologi yang dikembangkan dari tahun
lalu,” katanya.
Misalnya, kestabilan lebih bagus, lebih aerodinamis, dan ada selektor
strategi. Namun untuk menghadapi KRI tingkat nasional, tim robot
Politeknik Batam terus mengembangkan Transformer agar lebih baik.
Kecepatan ditingkatkan dua kali lipat dan beban empat kali lebih
ringan.
”Untuk strategi, kami kombinasikan teknologi yang lebih bagus yang kami pelajari dari peserta lain,” ungkap Viky.
Tim Robot Politeknik Batam berharap kerja keras mereka bisa terbayar
nanti. Langkah awal, kerja mereka sudah terbayar dengan meraih
peringkat kedua pada KRI 2008 Regional I Sumatera. Mereka hanya
dikalahkan tim Politeknik Manufaktur Timah Bangka. Namun mereka
menargetkan bisa masuk tiga besar di Jakarta nanti. Semoga. (uma)
Berita terkait:
|