|
Tanjung Pinang (BCZ)
Penutupan rute penerbangan Tanjung Pinang - Jakarta yang dilakukan oleh
Merpati Airline membuat Sriwijaya Air terpacu untuk tetap menjadi
satu-satunya maskapai yang melayani rute ini.
Kepala Dinas Perhubungan Azibar mengatakan bahwa Maskapai Sriwijaya Air bahkan tidak akan meminta subsidi kepada Pemda Tanjung Pinang.
''Untuk penerbangan yang dilakukan Sriwijaya Air ini, pemerintah daerah tidak perlu lagi mengeluarkan subsidi sebesar Rp 1 miliar seperti yang dilakukan terhadap Merpati Nusantara kemarin,'' ucap Azibar
Namun begitu, pihak Srwijaya Air, sesuai dengan perhitungan bisnis yang mereka terapkan, akan melayani penerbangan hanya pada jam-jam yang diminati oleh para penumpang. ''Hal ini karena mereka juga tidak mau menanggung resiko biaya penerbangan yang tergolong cukup tinggi, tanpa harus disubsidi oleh pemerintah daerah,'' ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, sesuai dengan rencana pelebaran landasan yang saat ini sedang dilakukan di Bandara Raja Fisabillah tersebut, juga akan dilakukan penambahan rute pesawat. ''Di bandara tersebut juga akan dilayani oleh enam pesawat berbadan lebar dari Sriwijaya Air tersebut,'' ucapnya.
Lebih jauh Azibar mengungkapkan bahwa pada akhir 2008 dan 2009 ini, akan dibangun jalan masuk ke bandara yang terdiri dari dua jalur. Sementara di tengahnya akan dibangun boulevard.
''Intinya, bandara tersebut akan segera berubah wajah dalam tiga tahun kedepan ini,'' ucap Azibar.
Lalu saat disinggung mengapa ada keluhan masyarakat terhadap Merpati yang dianggap sering delay, sementara maskapai tersebut sudah disubsidi oleh pemerintah daerah, Azibar mengungkapkan bahwa rute daerah Tanjungpinang, diakui Azibar sebagai daerah terakhir yang dilewati Merpati Nusantara Airlines, dari Jakarta tersebut.
''Lalu dengan kondisi seperti itu, wajar saja jika rute yang terakhir itu sering mengalami resiko keterlambatan,'' paparnya.
Sedang terkait subsidi yang diberikan, hal itu disebabkan karena biaya operasional Merpati dibanding maskapai yang lain, jumlahnya lebih besar. Sementara ia harus melayani rute Tanjungpinang-Jakarta dua kali seminggu.
''Selain itu, pesawat yang digunakan, juga berbadan lebar, yakni jenis 73700. Pesawat tersebut, termasuk boros bahan bakar,'' ungkapnya.(BN/dia)
Berita terkait:
|