|
TANJUNGPINANG - Terhitung mulai tanggal 19 hingga 26 Mei 2008 ini,
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Kepri akan
mengajak tim kesenian Kepri mengunjungi Belanda dalam rangka promosi
pariwisata. Ikut dalam rombongan, pejabat di lingkungan Badan Penanaman
Investasi Daerah (BPID) Kepri dan Dinas Perdagangan Kepri. Selain
promosi wisata Kepri, kunjungan di negeri Kincir Angin tersebut, juga
mengikuti temu bisnis bidang investasi kepariwisataan.
Kepala Disbudpar Kepri, Robert Iwan Loriaux mengatakan, rombongan yang berangkat berjumlah sekitar 23 orang terdiri lima jajaran Pemprov Kepri dan 18 orang dari tim kesenian Kepri. Kunjungan ke Belanda bertujuan menghadiri undangan pemerintah Belanda memajukan bidang kepariwisataan di Kepri. ”Awak jangan salah tulis. Yang pergi tim kesenian Kepri,’’ ujar Robert Iwan Loriaux, kemarin.
Penegasan tim kesenian Kepri yang diikutsertakan lanjut Robert Iwan, untuk menghindari tanda tanya pelaku bidang kepariwisataan Kepri. Hingga kini katanya, pelaku bidang kepariwisataan Kepri sangat banyak dan memiliki aneka bidang keahlian.
”Kita hanya mengutamakan tim kesenian Kepri. Bukan yang lain. Karena itu, saya perlu tegaskan yang diikutsertakan adalah tim kesenian,’’ kata Robert Iwan, mengulangi.
Ditanya berapa Disbudpar mengeluarkan anggaran APBD mengunjungi Belanda, Robert Iwan menyebut jumlahnya mencapai Rp820 juta. Anggaran sebanyak ini katanya digunakan buat kelancaran aktifitas rombongan tim kesenian Kepri selama sekitar delapan hari.
Robert menambahkan, kelancaran aktivitas tim kesenian yang dimaksud antara lain menggelar promosi kepariwisataan Kepri. Di dalamnya, tim kesenian Kepri mempromosikan aneka kerajinan asli dan kesenian Kepri di tengah lapisan masyarakat Belanda.
Rencana kunjungan tim kesenian Kepri ke Belanda ternyata mendapat reaksi lapisan masyarakat. Salah satu dari Ketua Lembaga Advokasi Kebijakan Publik, Anton Hattawijaya. Pria ini menyebut, upaya promosi terkesan menghamburkan kas daerah saja.
”Untuk promosi tak perlu banyak orang. Pengeluaran kas pun bisa diminimalisir. Uang Rp820 juta itu tak sedikit. Bisa buat bantu masyarakat miskin dan pihak yang membutuhkan lain,’’ ujar Anton Hattawijaya.
Anton menyambut baik upaya Disbudpar menggencarkan promosi wisata. Yang tak setuju katanya, jika promosi melibatkan banyak orang dan anggaran besar untuk satu momen saja. (zek)
|