|
Badai Di Myanmar Tewaskan 22.464 Orang |
|
Rabu, 7 Mei 2008 | 09:04:34 |
|
Rangoon (BCZ) Dampak Badai Tropis Nargis yang menyerang sejumlah
tempat di Myanmar Ahad (4/5) lalu lebih dahsyat dari yang diperkirakan.
Tertutupnya rezim militer yang mengendalikan negeri itu membuat fakta
yang sebenarnya tidak terekspos dengan akurat.
Jumlah korban yang semula dilaporkan hanya ratusan jiwa berkembang menjadi puluhan ribu. Korban yang dilaporkan hilang juga tidak kalah banyak mencapai puluhan ribu juga.
Berbagai media menyebutkan versi yang berbeda tentang korban tewas. Dalam salah satu laporannya, CNN menyebutkan lebih dari 22.000 orang meninggal. Sebuah siaran berita media lokal menyebut jumlah pastinya mencapai 22.464 orang.
Banyaknya korban tersebut terjadi karena badai tersebut ternyata diikuti dengan gelombang pasang setinggi sekitar 3,5 meter, yang sebelumnya tidak terungkap. ‘’Lebih banyak kematian yang disebabkan gelombang pasang dibandingkan karena badainya sendiri,’’ ujar Menteri Pembebasan dan Transmigrasi Maung Maung Swe dalam konferensi pers di Rangoon.
Dilaporkan, kini persediaan pangan dan pasokan air di ibukota yang luluh lantak akibat badai itu semakin menipis. Penduduk kota itu juga harus hidup di tempat-tempat terbuka, setelah banyak bangunan dan rumah yang tersapu badai.
Kerusakan terparah terjadi di Bogalay, yang berjarak sekitar 90 kilometer barat daya Yangon. Hampir 95 persen wilayah itu porak poranda. Dari kota itu saja tercatat 10.000 orang tewas. Hasil foto satelit PBB menunjukkan bahwa pusat badai berada di Laut Andaman bergerak ke pesisir Teluk Martaban. Area tersebut didiami hampir seperempat dari penduduk Myanmar yang berjumlah 57 juta jiwa.
Kyi Minn dari badan pembangunan internasional World Vision menuturkan kepada CNN bahwa situasi masuk cukup suram. ‘’Bisa jadi, kejadian ini lebih parah dibandingkan tsunami,’’ kata Minn, yang membandingkan dengan bencana tsunami yang dialami Indonesia tahun 2004 silam.
Ketika itu, tsunami dipicu gempa bumi di pesisir Indonesia yang kemudian menewaskan lebih dari 150 ribu jiwa. CNN pun melansir bahwa kini jumlah warga yang kehilangan rumah bisa mencapai satu juta orang. Sebegitu jauh, pemerintah masih bersikap tertutup. Media-media yang dikendalikan pemerintah lebih banyak menyajikan upaya yang sudah dilakukan.
Mereka menampilkan gambar para serdadu yang bekerja mengatasi bencana. Juga para jenderal yang memberi salam kepada para korban di dalam kuil. Menteri Informasi Kyaw Hsan satuan militer telah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan.
Kalangan analis memprediksikan bahwa kondisi itu potensial menyebabkan kejatuhan politik bagi dewan militer yang berkuasa. Apalagi, mereka (junta) telah lama membanggakan diri bisa mengatasi tantangan apapun yang terjadi.
‘’Mitos bahwa mereka telah memperkirakan segala sesuatunya dengan sangat baik hilang tak berbekas,’’ kata analis politik Aung Naing Oo.(jpnn)
|