Menganggap Manusia Sama Dengan Benda-benda
Batam (BCZ)
Penderita Autis tidak boleh di kucilkan. Sebaliknya, mereka
sangat membutuhkan perhatian dan bimbingan dari orang tua maupun
orang-orang disekitarnya. Mereka dapat diobati dengan melakukan terapi
secara teratur.
Menurut Dr.Fisher, Bagian Rehabilitasi Medik RS.Awal Bros, Autis meupakan kumpulan gejala gangguan baik komunikasi maupun perilaku. Gangguan komunikasi yaitu keterlambatan bicara, apabila pada usia 2 tahun masih belum bisa bicara kemungkinan anak tersebut menderita autis.
Sedangkan gangguan komunikasi merupakan gejala yang paling gampang diketahui. Anak tersebut tidak ada interaksi dengan yang lain, dia juga tidak mau kontak mata dengan orang lain.
"Anak penderita autis biasanya melihat orang seperti dibalik tirai. Dia menganggap kita manusia sama dengan benda-benda," ujarnya kepada wartawan.
Fisher juga mengatakan bahwa penderita autis bisa diderita sewaktu masih dalam kandungan, bisa sesudah lahir ataupun pada masa tumbuh kembang anak.
"Apabila Autis diderita sejak masih dalam kandungan disebabkan adanya kelainan genetik. Kalau saat baru lahir disebabkan anak tersebut kekurangan oksigen didalam otak, sehingga terjadi kerusakan otak. Sedangkan apabila autis timbul pada masa pertumbuhan anak apabila timbul kejang-kejang serta terjatuh dan membentur kepala. Secara umum penyebab utamanya bukan karena salah asuh, tetapi karena adakerusakan di otak," terangnya.
Untuk mendeteksi sang anak apakah menderita Autis, Fisher mangatakan dapat diketahui dengan memperhatikan gejala-gejala antara lain, pada waktu lahir sang anak tidak langsung menangis. Kalau saat masa tumbuh anak, dia tidak mau kontak mata dengan orang lain, tidak mau tersenym dan suka main sendiri.
"Biasanya semakin berkembang usia, perilaku akan semakin aneh, marah yang aneh, dan terkadang mau memukul kepala sendiri," pungkasnya lagi.
Untuk penanganan anak yang menderita Autis, Dia mengatakan paling utama melakukan terapy perilaku. Selain itu dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain Metode Lavaas, yaitu pada dasarnya diberikan intruksi yang jelas, tegas dan konsisten. Yaitu menyuruh anak untuk melakukan sesuatu, apabila dia mau melakukannya maka akan diberikan pujian. Kalau belum mau maka akan dituntun sampai bisa. Dengan metode Therapy okupasi dengan meningkatkan sensory Integrity. yaitu dengan meningkatkan sensornya seperti rangsangan penglihatan, pendengaran dan rangsangan sentuhan untuk menarik perhatian. Therapy Snoezellen, seperti meletakkan anak dalam ruangan yang telah dimodifikasi dengan memberikan gambar-gambar, lampu disko agar dapat menarik perhatian anak tersebut sehingga dia bisa berinteraksi. Terapy wicara yaitu dilatih bicara secara bertahap sesuai dengan perkembangannya.
"Terapi ini dilakukan sampai seumur hidup karena sampai sekarang masih belum ada obatnya. yang bisa kita lakukan hanya menghilangkan gejala sampai seolah olah tidak kelihatan," ujarnya.
Fisher mengatakan sudah sering menangani pasien Autis di Batam. "Di Batam banyak sekali penderita autis. Setiap hari saya menangani 2 sampai 3 pasien baru," terangnya lagi. (BN/cr6)
|