Pulau Komodo masuk dalam daftar calon tujuh keajaiban dunia |
 |
Today's Must-Reads
Editorials
Pemerintah menurunkan tarif pajak perorangan sejak 1 Januari 2009
Dua Kapal Perang Buatan buatan lokal menambah armada TNI AL untuk mengamankan perairan Kepri | |
|
Usung Warna Baru Dirty Pop |
|
Rabu, 30 Januari 2008 | 15:29:48 |
Setiap musisi selalu mendambakan kesempurnaan dalam berkarya. Tak jarang, mereka harus melewati proses mixing yang rumit dan melelahkan. Termasuk, untuk mendapatkan sound jernih dan sesuai image. Namun, yang dilakukan Franz Ferdinand adalah pengecualian.
Di album ketiga, band asal Glasgow, Skotlandia, tersebut justru menghindari kata sempurna. Mereka memilih karakter sound yang raw dan "kotor." Dirty pop. Itulah warna aliran yang bakal dibawakan Alex Kapranos (vokal), Bob Hardy (bas), Nick McCarthy (gitar, keyboard), dan Paul Thomson (drum, perkusi).
Karakter sound baru tersebut diperkuat penggunaan satu instrumen unik bernama Polyvox. Itu adalah synthesizer ala Rusia yang diproduksi antara 1982 dan 1990. Alat bantu musik tersebut dibuat Vladimir Kuzmin, seorang insinyur listrik. Desainnya terinspirasi model radio militer milik pemerintah Soviet. Konon, suaranya tak kalah dari synthesizer bikinan Jepang dan Amerika Serikat, seperti Moog, Korg, dan Roland.
Kuno? Mungkin. Apalagi teknologi Polyvox termasuk ketinggalan zaman. Setidaknya jika itu dibandingkan dengan synthesizer modern produksi tahun ini. "Untukku, ketidaksempurnaan itulah yang membuat karya menjadi sempurna. Seperti gitar paling murah dan paling jelek, namun digunakan bersama amplifier yang biasa dipakai berlatih," tutur Kapranos.
Mereka juga akan meninggalkan unsur rock yang dominan di sophomore, You Could Have It So Much Better (2005). Karakter musikal Franz Ferdinand akan kembali ke pop yang danceable. "Unsur synthesizer dan dance di album kedua lebih ke rock. Kami ingin menjadikan album ketiga ini lebih berkarakter dance ketimbang rock," imbuh vokalis berambut pirang itu.
Keempat personel tersebut menghabiskan 2007 untuk menulis materi. Hingga kini, ada 18 lagu yang siap direkam. Beberapa di antaranya sempat dibawakan Franz Ferdinand saat live. Di antaranya, Ride Together, Turn It On, What She Comes For, Ulysses, A New Thrill, English Goodbye, Live Alone, Kathrine Kiss Me, dan Girls, You’ll Never Know.
Awalnya, mereka berniat merekam album di studio yang bagus di London. Namun, setelah mencoba, diputuskan bahwa sesi demo yang telah dilakukan di Glasgow jauh lebih bagus. "Benar-benar ada attitude dirty pop di situ," jelas Kapranos.
Mereka merasa hal itu sangat lucu. Sebab, logikanya, semua yang mereka lakukan salah."Tapi, logika tidak pernah bermain ketika kamu membuat musik. Kamu harus percaya insting. Itulah yang membuat kami ingin bangkit dan menari," papar Kapranos. Kapranos dkk punya standar saat rilis album. Menurut mereka, sebuah lagu tidak akan disertakan dalam album jika tidak ada potensi greatest hits. (rum/bs)
|
|  |
|
Internasional
-
Shah Alam (BCZ) Seorang pria yang mengaku dirinya sebagai seorang bangsawan Aceh dijatuhi hukuman gantung hingga mati.
Balik Pulau (BCZ) Kepolisian Malaysia membebaskan delapan orang
tebusan, dimana lima orang diantaranya merupakan Warga Negara Indonesia.
|
Real Estate
-
Batam (BCZ) Sebuah bola dunia atau globe bergaris tengah 11
meter yang diyakini terbesar di dunia, menjadi salah satu unggulan
destinasi wisata baru di Kota Batam, Mega Wisata Ocarina.
Batam (BCZ) Selain memiliki beberapa wahana wisata yang serba
modern, kawasan Mega Wisata Ocarina ternyata juga menyimpan beragam
keunikan. Salah satunya adalah kolam ‘Seribu Bangau’ yang berada di
tengah-tengah Kampung Seni Ocarina.
|
|
|