|
Arus balik tiba, yustisi menyapa. Sudah tradisi. DKI kembali disesaki
pengadu nasib dari berbagai daerah di Indonesia. Berbekal tekad dan
pemondokan seadanya dari keluarga yang telah bekerja di sana, sanak
saudara ikut menyapa Jakarta. Jakarta kembali sesak setelah seminggu
sempat lengang ditinggal pemudik.
Operasi yustisi digelar karena Jakarta tidak mau disesaki orang-orang yang tidak berkualitas tanpa keteramnpilan apapun untuk mengadu nasib di Jakarta.
Fenomena ini sudah jamak di kota besar seperti Jakarta dan kota industri lain seperti Batam. Batam pun telah menyiapkan jaring yang disebut Perdaduk, Perda yang mengatur kependudukan. Bedanya Batam lebih gampang menyortir pendatang karena pintu masuk lebih mudah dijaga.
Miripnya, Batam juga tak mau dimasuki warga daerah lain yang mengadu nasib tanpa keterampilan apapun. Kayaknya yang berkualitas boleh masuk ya?!
Jakarta maupun Batam diburu pencari kerja karena dianggap bisa menjadi ladang baru. Kini kenapa pula para pemburu rupiah itu yang harus diburu? Kenapa pula pembangunan tak diratakan ke seluruh pelosok tanah air sehingga seluruh daerah bisa hidup. Arus migrasi untuk sekadar mencari sesuap nasi pun bisa diminimalkan.
Mengapa pula Jakarta menjadi pusat segala pusat?! Di sana pusat pemerintahan, pusat ekonomi, pusat hiburan dan sebagainya. Anehnya tidak mau menjadi pusat kemiskinan karena arus migrasi yang deras.
Mengapa Indonesia tak mencontoh negara lain yang menyebarkan pusat-pusat rezeki tersebut. Hollywood tidak di Washington DC sebagai pusat pemerintahan AS. Saat ini sisi lain yang sangat disorot dunia di AS adalah New York Stock Exchange, alias bursa efek New York. Di Indonesia dulu dikenal Bursa Efek Jakarta yang kemudian berganti nama Bursa Efek Indonesia namun posisinya tetap saja di Jakarta.
Awalnya TV swasta juga tidak boleh berkumpul di Jakarta, namun karena pusat hiburan ada di sana mau tak mau TV swata yang telah membangun markas di daerah harus boyongan ke sana.
Batam bersyukur tidak menjadi pusat pemerintahan Provinsi Kepri karena ibu kota Kepri ada di Tanjungpinang, namun Batam masih menjadi maskot ekonomi Kepri bahkan Indonesia. Dalam pelaksanaan FTZ Batam juga jauh lebih siap daripada dua daerah lainnya. Apabila Batam tak mau dikerubuti semut migran tentulah harus segera mungkin disebarkan pusat rezeki ke seluruh pelosok provinsi. ***
|