|
Krisis keuangan yang dipicu gonjang-ganjing kredit perumahan di AS
telah merembet ke seluruh nadi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Bahkan Bursa Efek Indonesia sempat ditutup karena harga saham yang
terus anjlok.
Bagaimana warga Amerika menyikapi kemerosotan ekonomi ini? Voice of America (VOA) mewawancarai warga Washingtoin DC. Si sumber berita menjawab, ia akan merancang ulang keuangannya. Ia akan menata ulang apa saja yang harus dibeli saat belanja. Ia juga mengaku harus mengubah gaya hidup.
Jawaban ini mirip sekali saat Channel News Asia, Singapura mewawancarai warga Singapura menghadapai kenaikan tarif listrik pada Juli lalu.
Si sumber berita yang diwawancarai di trotoar di tengah perjalanannya juga mengatakan akan mengubah gaya hidupnya untuk menghadapi kenaikan tarif listrik. Si sumber berita bilang ia akan lebih peduli untuk menggunakan listrik secara efeisien. Menyalakn bila perlu dan mematikan bila tidak.
Jawaban dari nara sumber dari dua kantor berita itu adalah sebentuk manipulasi diri terhadap tantangan yang tengah dihadapi. Manipula bukanlah sebuah akal-akalan meraih impian dengan jalan tak benar. Manipulasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satu maknanya adalah mengatur (mengerjakan) dengan cara yang pandai sehingga dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.
Tiada keluhan yang dikeluarkan kedua nara sumber di tempat yang berbeda itu. Mereka menatap hidup tetap dengan optimis, setidaknya ia optimis bisa melewati tantangan hidup yang sedang dihadapi.
Dalam bahasa berbeda Khatib Jumat di atas mimbar kemarin bilang menghadapi krisis keuangan ini setiap umat harus sabar dan tabah serta tidak menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Perjalanan hidup masih panjang, sejatinya kita juga telah banyak melewati tantangan dan berhasil melaluinya. Toh hingga sekarang kita tetap bisa hidup layak tanpa kekurangan. Semoga ke depan juga demikian. ***
|