Mega Familiarisation Tour Program Malaysia
Klaim Malaysia terhadap lagu “Rasa Sayange” dan kesenian Reok
sebagai bagian dari kebudayaan mereka masih kental diingatan. Bahkan,
klaim tersebut membuat pemerintah dan masyarakat Indonesia kebakaran
jenggot. Lalu bagaimana nasib seni Angklung dimata masyarakat Malaysia?
Dengan lincah, tangan Alung memainkan bambu-bambu yang menjadi ciri khas musik angklung. Alung yang baru tiga tahun menekuni alat musik khas Jawa Barat ini, tampak mahir sekali membawakan berbagai lagu-lagu yang begitu populer di negaranya-Malaysia-termasuk lagu-lagu dari Indonesia.
Kaulah segalanya-lagu yang dipopulerkan Ruth Sahanaya-Gesang serta lagu-lagu Broeri Pesolima, mampu membuat para undangan dari program Mega Familiarisation Tour Programme di Kuala Lumpur (7-11/2), terbuai. Media internasional seolah tak ada puasnya mengabadikan momen tersebut.
Kurang lebih setengah jam, Alung yang berasal dari Johor ini memainkan Angklung. Selama itu pula, para undangan tampak begitu antusias dan sangat menikmati pertunjukan tersebut. Alung-pun tampil tidak bedanya dengan para seniman Angklung sesunguhnya yang banyak dijumpai di Jawa Barat. Bahkan, tadinya, beberapa undangan dari Indonesia mengira Alung seniman dari Jawa Barat yang sengaja didatangkan untuk penampilan ini.
“Kalau dilihat dari caranya main, sepertinya ini orang Bandung,’’ ujar Toni, salah undangan dari Indonesia yang memang berasal dari Bandung.
Tapi, setelah Batam Pos menanyakan hal tersebut, ternyata Alung mengaku bukan berasal dari Bandung, melainkan asli dari Johor. ”Di Johor, hanya tiga orang yang saat ini bisa main ini, salah satunya saya,’’ ujar Alung yang menyukai Angklung sejak tiga tahun belakangan ini.
Diakuinya, dukungan pemerintah Malaysia terhadap kesenian yang dimainkan masyarakatnya, menjadi salah satu hal yang membuatnya terus mendalami kesenian tersebut. Karena dukungan pemerintah juga, ia akhirnya banyak mendapat kesempatan untuk tampil diberbagai acara.
Secara pribadi Alung sendiri tahu kesenian tersebut berasal dari Jawa Barat. Tidak hanya Alung yang mengetahui hal tersebut, Director of Advertising and Publicity Pariwisata Malaysia Amiruddin Abu- yang membuka acara persentasi program Mega Familiarisation Tour (9/2) di hotel Millennium Kuala Lumpur, juga mengetahui asal mula alat musik tersebut.
Sayangnya, saat angklung ditampilkan di depan para undangan yang hadir dari berbagai negara tersebut, tidak sedikitpun disebutkan kalau angklung tersebut berasal dari Indonesia. Pemandu acara hanya menyebutkan, penampilan berikutnya, tamu yang hadir akan dihibur oleh suguhan musik Angklung yang unik oleh seniman dari Johor.
“Karna banyak orang Malaysia yang nenek moyangnya dari Indoensia, jadi banyak kesenian Indonesia yang familiar disini,’’ ujar Amiruddin, generasi ke tiga orang Sumatra Barat yang tinggal di Malaysia.
Amiruddin juga mengungkapkan, banyak keturunan Indonesia dari berbagai budaya seperti Sumatra Barat atau dari Jawa yang tinggak di Malaysia, tetap mempertahankan budayanya. Kondisi ini secara perlahan akan terus menjadi bagian dari komunitas melayu asal Indonesia yang tinggal di Malaysia. Permasalahannya, karena sudah beberapa generasi mereka menetap di Malaysia, berbagai kesenian tersebut sudah menjadi dianggap bagian dari budaya Malaysia juga.
Bahkan, saat Batam Pos menanyakan, kenapa sejarah asal dari kesenian Indonesia tersebut tidak dijelaskan kepada undangan yang hadir, Amiruddin mengaku, kesenian tersebut sudah seperti budayanya sendiri. “Mungkin karena nenek moyang saya dari Indonesia, jadi tidak merasa hal tersebut jadi suatu masalah,’’ ungkapnya. (dew)
|