|
Hasan Tiro Kunjungi Aceh 11 Oktober |
|
Selasa, 7 Oktober 2008 | 11:08:47 |
|
Jakarta (BCZ) Mantan Pimpinan Tertinggi Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) Tengku Cik Ditiro Hasan Muhammad (Hasan Tiro) bakal kembali
kekampung halaman di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 11 Oktober
2008.
Pria kelahiran Pidie ini berencana untuk melakukan kunjungan sosial ke kampung halamannya. Gubernur NAD Irwandi Yusuf sempat mendesak perlakuan protokoler resmi pada deklarator kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976 itu.
Di Indonesia, alumnus pertama Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu akan disambut adalah Duta Besar Rusia Hamid Awaludin yang juga merupakan merupakan Ketua Tim Perundingan Damai RI-GAM di Helsinki. Rencananya, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga bakal menemui Hasan di Banda Aceh.
Penulis buku The Prince of Freedom ini rencananya bakal mengunjungi sanak keluarganya yang ditinggalkannya sejak 1979. Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah menjelaskan bahwa pihaknya telah mengeluarkan visa untuk Hasan Tiro.
“Dengan mengeluarkan visa, pemerintah berarti sudah mengetahui kedatangan mantan pemimpin tertinggi GAM itu,” ujarnya di Jakarta kemarin (6/10).
Kedatangan Hasan yang selama ini memilih tinggal di Stokholm Swedia itu tergolong spesial. Ini karena dia sudah tidak lagi menginjakkan kakinya ke Aceh sejak 1979. Selain itu, dia juga dikenal menggerakkan gerilya GAM dari luar negeri.
Dalam tubuhnya mengalir darah biru para pejuang Aceh. Hasan merupakan anak kedua pasangan Tengku Pocut Fatimah dan Tengku Muhammad Hasan. Tengku Pocut inilah cucu perempuan Tengku Chik Muhammad Saman di Tiro yang juga Pahlawan Nasional Indonesia.
Terkait tanggal kelahiran, berbagai versi tanggal lahir Hasan mengemuka. Diantaranya adalah tahun 1923, 1925 dan 1930. Kalau menurut situs wikipedia, Hasan kelahiran 25 September 1925. Sementara bila merunut situs web Acheh/Sumatra National Liberation Front, nama resmi Gerakan Acheh Merdeka, Hasan kelahiran 4 September 1930. Artinya, ia kini umur 78 tahun. Keterangan ini pula yang terdapat dalam buku harian Hasan di Tiro, The Prince of Freedoms.
Namun kalau membaca keterangan lahir pada buku karangan di Tiro lainnya, Demokrasi untuk Indonesia, cetakan kedua 1999 dari versi awal 1958, tertera bahwa ia kelahiran 1923. Artinya, umur Hasan kini telah mencapai 85 tahun. Ini juga yang diacu oleh Kirsten E. Schulze saat menulis The Free Aceh Movement: Anatomy of a Separatist Organization. (iw/noe/tom/jpnn)
|