|TV News | RSS |  
Bursa Kerja
OFFSIDE
FEATURED BLOGGERS
KOLOM CAKAP BOLA
  • by

    Ade Adran Syahlan
Google
BISNIS MALL
PT GTA mempunyai waktu selama 14 hari untuk memenuhi kewajiban mereka
Today's Must-Reads
Sebuah Keikhlasan untuk Memaafkan
Senin, 6 Oktober 2008 | 10:01:17
OLEH : R. DACHRONI
Presiden BEM STISIPOL Raja Haji/Fisip Umrah Tanjungpinang – Kepulauan Riau dan Mantan Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Ar-Ruhul  Jadid

(Yang Terpenting dari Halal bi Halal)
Mesti halal bi halal tidak pernah dilakukan di zaman Nabi Muhammad SAW, tetapi ianya sudah menjadi sebuah tradisi keindonesiaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sejak zaman mantan Presiden Soekarno, halal bi halal dijadikan sarana antara pemimpin dan rakyatnya untuk saling memaafkan. Menghalalkan segala kesalahan dan kekhilafan para pemimpin sekaligus sarana untuk mendekatkan pemimpin dan rakyatnya.


Demikian ingat penulis ketika mendengarkan seorang penceramah di sebuah acara halal bi halal setahun yang lalu. Dapat dipastikan, setelah seminggu lebaran hingga sebelum bulan Syawal berakhir jelas beragam institusi pemerintahan, sekolah, panguyuban dan beragam organisasi lainnya akan menggelar acara halal bi halal (HBH). 


Melihat kembali ke belakang, sebelum memasuki detik-detik Syawal, penulis yakin dan percaya, setiap muslim yang mengaku dirinya memiliki teman atau sahabat pasti di malam gema takbir menyambut Hari Raya Idul Fitri 1429 Hijriah mendapatkan SMS baik berupa pantun, kata-kata mutiara yang diupayakan sekuat tenaga oleh pengirimnya  untuk menghasilkan kata-kata yang mempunyai bunyi yang sama di penghujung  katanya dan ada juga yang menggunakan sabda Nabi Muhamad SAW sebagai pesan untuk menyampaikan permohonan maaf di hari kemenangan.


Sebagai muslim sejati, sudah barang tentu pesan SMS yang kita pilih mestinya dengan menggunakan perkataan yang pernah dituturkann Nabi Muhamad SAW kepada para sahabatnya dengan ucapan, “Taqaballahu Minna wa Minkum”. Namun, pada kesempatan yang berbahagia ini penulis tidak ingin membahas ucapan yang lain itu benar atau salah. Penulis hanya ingin memaparkan tentang makna Idul Fitri yang kita sambut dengan suka-cita dan fenomena Halal bi Halal yang diselenggarakan berbagai institusi / lembaga baik di lingkungan pemerintahan maupun non pemerintahan kelak.

Idul Fitri Penuh Makna
Jika dikembalikan pada pengertiannya, secara terminologis, Idul Fitri dapat diartikan kembali kepada sifat asli menurut kejadian. Itulah sebabnya, pada bulan ini  umat muslim diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir yang terbebas dari dosa. Kotoran-kotoran dosa sudah berguguran. Hati umat muslim yang telah menjalankan beragam ibadah pada bulan Ramadan kembali menjadi suci dan bersih dari noda. Kini, kertas putih itu telah diserahkan kembali kepada umat muslim akan menggoreskan warna tinta apa yang akan ditorehkannya.


Mengutip tulisan Deni Rahman pengurus Lembaga Bimbingan Ibadah dan Penyuluhan Islam Al Fatah Bogor dalam tulisannya yang berjudul Memaknai Idul Fitri di Majalah Islam Sabili Edisi Oktober 2008 ada lima makna yang terkandung di bulan yang fitri ini sesuai dengan yang tertuang dalam Alquran dan hadis. Pertama, manusia adalah makhluk yang beragama. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkann keturunan Adam mengambil kesaksian mereka, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul  (Engkau Tuhan kami), kami menjawab saksi” (QS Al’Araf ayat 172).


Ini bermakna, manusia harus mentaati apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptanya. Di samping itu, umat Islam juga dituntut kesadarannya dan kehati-hatiannya dalam menjaga hati yang telah bersih. Secara hakikatnya pula, umat Islam juga harus senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.


Kedua, manusia sebagai makhluk yang suci. Dalam QS Asy-Syura; 89 Allah  berfirman, “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah SWT dengan hati yang bersih,”. Ketiga, jaminan hati yang bersih ini diperoleh oleh orang-orang yang berpuasa ikhlas hanya untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampunkan dosanya yang telah lalu,” (HR. Bukhari dan Muslim).


Keempat, manusia adalah makhluk bermartabat tinggi. Allah berfirman, “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Yusuf: 53). Kelima, manusia makhluk sosial. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu mengenal,” (QS Al-Hujuraat: 13).


Dengan kata lain, sebagai makhluk sosial (zoon politicon) manusia mempunyai potensi untuk berbuat dosa antara satu sama lain. Berbagai kekeliruan dan kejengkelan tanpa disadari telah kita ciptakan. Di hari yang fitri, Allah SWT telah memberikan maafnya berupa ampunan dari segala dosa. Namun, Allah SWT tidak menghapus dosa yang berhubungan dengan ketersinggungan antara manusia yang satu dan lainnya. Dilihat dari proses hijrahnya manusia ke alam yang fitri Allah SWT melalui utusan-Nya menginformasikan tindakan seorang muslim menghindar dari saudaranya lebih dari tiga hari tanpa sebab yang dibenarkan syariat. Menghindarnya selama tiga hari hukumnnya makruh dan selebihnya haram kecuali karena suatu sebab darurat. Inilah tujuan utama  halal bi halal yaitu sarana untuk saling memaafkan dan saling menghapus dosa antarumat.

Pelurusan Niat dan Keikhlasan untuk Memaafkan
Dalam Islam, apapun perbuatan dan aktivitas yang kita lakukan itu memiliki nilai ibadah sejauh perbuatan itu diniatkan atau ditujukan kepada kepada Allah SWT bukan karena sebab-sebab yang lainnya seperti popularitas apalagi mengharapkan pujian orang lain. Agar halal bi halal menjadi sesuatu yang bernilai tidak hanya dari aspek keduniaannya saja, tetapi dari aspek ukhrawi (akhirat) juga akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Rabb semesta alam maka dirasakan perlu untuk tiap-tiap penyelenggara meluruskan niatnya.


Hal ini sesuai dengan apa yang  disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya, amalan-amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang diniatkannya. Barangsiapa niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; maka hijrahnya diterima oleh Allah dan Rasul-Nya; barangsiapa yang niat hijrahnya untuk dunia yang akan diperolehnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu pun akan sampai kepada apa yang diniatkannya,”.


Pada hadis lain yang diriwayatkan Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi, Allah Ta’ala berfirman, ”Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa yang melaksanakan amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka aku berlepas diri darinya”. Di sini yang perlu digarisbawahi, seseorang akan mendapatkan kedua kenikmatan baik duniawi maupun ukhrawi apabila aktivitas yang dilakukan itu diniatkan untuk Allah SWT, tetapi tidak untuk orang-orang yang meniatkan segala aktivitasnya kepada selain-Nya. Mereka hanya mendapatkan pujian sesaat dari segelintir manusia dan popularitas yang sekejap saja habisnya.


Memang perlu penulis akui, dari halal bi halal banyak hikmah yang dapat dipetik antara lain memupuk rasa ukhuwah islamiah, memberikan kesempatan untuk bersilaturahim secara luas sebab selama lebaran tidak semua rumah yang dapat dikunjungi, menumbuhkan motivasi suatu organisasi entah itu yang bersifat birokrasi maupun non-birokrasi  kepada para anggotanya atau kader-kadernya, tempat tukar-menukar informasi dan wadah untuk saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan.


Namun, sekali lagi penulis merasa perlu menegaskan untuk memaafkan orang lain kita membutuhkan suatu keikhlasan. Bukan senyuman dan jabatan tangan yang dipaksakan, tetapi yang kita butuhkan adalah keikhlasan untuk memaafkan ketika kita berjabat tangan kepada orang-orang yang tanpa disadari telah kita zalimi dan orang lain yang telah menzalimi diri kita. Akhirnya, mumpung masih dalam bulan Syawal penulis menyusun sepuluh jari meminta maaf kepada seluruh pembaca atas kesalahan dan kekeliruan yang mungkin terdapat dalam tulisan ini.

Ikan patin ikan bawal
Panjang sungguh si ikan patin
Masih ada bulan Syawal
Mohon maaf lahir dan batin 
Taqabballahu minna wa minkum.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan senantiasa mengingatkan dan menyadarkan kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi-Nya. Amin. ***


 
NUSANTARA [ indeks ]

OLAHRAGA [ indeks ]

MM Research Polls
Mampukah Pemerintah Indonesia Mengatasi Krisis Ekonomi?
Lebih Burukkah Krisis Tahun Ini Dibandingkan dengan 1997 Yang Lalu?
Jenis Kelamin Anda
Batam Pos
Batam Pos
Posmetro
Batam TV
Graha Pena
Ripos Bintana
Batam News
Matrix Consultant
Internasional
  • Harimau Putih Bunuh Pekerja di Kebun Binatang Singapura Singapura (BCZ) Masih ingat kejadian minggu lalu ketika seorang petugas cleaning service berkewarganegaraan Malaysia tewas diserang dua ekor harimau  putih di Kebun Binatang Singapura?
    Florida (BCZ) Seorang anak berusia 19 tahun telah melakukan bunuh diri yang disiarkan secara langsung lewat webcam melalui situs www.justin.tv
Real Estate
  • Perumahan Bukit Surya Indah (BSI) Residence yang dibangun PT Putera Karyasindo Prakasa (PKP), membuat program khusus selama Ramadan. Bagi konsumen yang membeli rumah di BSI, akan diberikan ketupat BSI senilai Rp 10 juta. Menariknya, untuk mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR), konsumen cukup...
    BATAM —Ketatnya bisnis properti di Batam, membuat pengembang dituntut kreatif untuk memasarkan produknya. PT Kurnia Djaja Mukmur Abadi misalnya, membebaskan biaya legalitas kepemilikan rumah untuk konsumennya yang membeli rumah di Kurnia Djaja. Saat ini, Kurnia Djaja sedang menjual...


Portal News
Surat Kabar
Majalah
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Copyright 2008 - Batam Cyber Zone. All rights reserved. Best View : 1024 x 768 with Firefox
About Us | Advertise with Us | Subscribe | Contact Us