|
Bos Rampok Penyimpan 30 Emas Batangan
Semarang (BCZ) Mendiang We Shing, otak perampokan sadis di mata
sejumlah tetangganya di Jalan MT Haryono (d/h Jalan Mataram) Semarang
dikenal pria yang humoris dan baik.
Ia tinggal di sebuah ruko--yang dulunya toko emas--di Jalan Haryono 966 D Semarang. Sejumlah warga setempat menjulukinya sebagai lurah di kawasan tersebut.
Sudah 3 bulan terakhir toko emas milik We Shing tutup, tepatnya setelah kejadian perampokan Toko Emas Bintang Mas di Kranggan pada Juni lalu.
Menurut tetangga We Shing yang mengaku bernama Andi, 25, We Shing sempat tinggal di ruko tersebut. We Shing juga suka jalan-jalan di sepanjang Jalan MT Haryono.
"Bahkan sempat membeli kabel ditempat saya. Dia juga sempat mengajari senam peredaran darah kepada papa saya," terangnya.
Andi merupakan tetangga We Shing yang memiliki toko elektronik satu komplek dengan ruko We Shing.
We Shing tinggal di ruko tersebut bersama istri keduanya dan dua anaknya. Salah satu anaknya, Adi Pradana, 22, ikut menemani kabur sang ayah hingga We Shing tewas tertembak di Surabaya.
Tadi malam, ruko berlantai tiga lantai itu tampak sepi. Lantai dasar merupakan toko mas, lantai dua tempat tinggal, dan lantai tiga berupa gudang berisi besi-besi tua.
"Sudah puluhan tahun menghuni tempat itu. Setelah kejadian perampokan di Kranggan, toko emas miliknya langsung tutup. Tadinya masih sempat buka sedikit rollingdor-nya," ucap Andi yang mengaku sering bermain di rumah We Shing saat masih kecil.
Meski We Shing perampok berdarah dingin, namun Andi dan beberapa warga yang tinggal di kompleks tersebut tidak merasa takut. We Shing di mata tetangganya dikenal humoris, sering menyapa. Meski begitu, bagi orang-orang yang kurang dikenal atau bukan dari lingkungan ruko tersebut, ia cukup mengerikan.
"Preman saja tidak berani berkeliaran di kompleks sini. Yang dekat dengan dia malah aman. Ia malah dianggap sebagai lurah ditempat ini. Seperti kalau tujuh belasan, warga yang tidak mau memasang lampu dan bendera, dia (We Shing) turun tangan warga langsung bergegas memasang hiasan," ceritanya.
Andi pun menceritakan, sebelum kejadian kasus Kranggan, We Shing kerap membeli kue kepada seorang penjual kue di tempat tersebut dengan membawa tas ransel besar.
"Setelah dengar berita permpokan Kranggan, tukang kue itu cerita sama saya kalau malamnya (sebelum kejaian perampokan Kranggan) sempat beli makanan dengan menggunakan tas punggung," kata Andi. (jpnn/zal/isk)
Berita terkait:
|