Penurunan harga BBM dinilai oleh anggota Dewan harus diiringi dengan penurunan tarif angkutan
Starbucks Tarik Produk Susu Cair
Senin, 22 September 2008 | 11:08:57
Shijiazhuang (BCZ) Badan Pengawas Kualitas (AQSIQ) Tiongkok
menarik produk susu cair setelah positif menemukan kandungan bahan
kimia melamin di dalamnya. Buntutnya, sejumlah toko grosir dan
swalayan, termasuk Starbucks, di Beijing dan Shanghai mengosongkan
rak-rak penjualan susu cair.
Pemerintah Tiongkok memperluas penelitian pada susu cair setelah terbukti ada kontaminasi melamin dalam susu bubuk bayi. Dua di antara tiga perusahaan produsen susu cair terbesar yang diteliti adalah Mengniu Dairy Group Co. dan Yili Industrial Group Co. Kedua perusahaan itu bermarkas di wilayah otonomi Mongolia. Satu perusahaan lagi adalah Bright Dairy yang berproduksi di Shanghai. Dari penemuan tersebut, ditengarai ada praktik penambahan bahan kimia pada produk susu cair.
Sebanyak 300 gerai Starbucks di Tiongkok menarik semua susu yang disuplai Mengniu. Begitu pula jaringan grosir besar Hong Kong, PARKnSHOP dan Wellcome. Mereka menarik semua produk susu cair Mengniu sehari setelah penarikan produk Yili, termasuk produk turunannya, seperti yogurt dan es krim.
Singapura menunda penjualan dan impor seluruh produk susu Tiongkok Jumat lalu. Myanmar pun segera mereaksi susu yang terkontaminasi itu. Sebab, sejumlah produk susu Tiongkok juga dijual di sana. Penarikan produk susu Tiongkok dari pasar juga dilakukan oleh Bangladesh.
Krisis susu tersebut dipicu sejak ditemukannya kasus kontaminasi susu formula bubuk bayi produksi Sanlu Group yang mengakibatkan empat bayi tewas. Selain itu, 6.200 bayi lain menderita sakit ginjal.
Dampaknya, kekhawatiran merebak di kalangan orang tua, terutama di Tiongkok.
Mereka berbondong-bondong memeriksakan buah hati mereka. Merespons hal tersebut, pemerintah Tiongkok pada Jumat (19/9) meminta semua rumah sakit memberikan pengobatan gratis untuk bayi yang sakit. Selain itu, otoritas setempat berupaya menarik seluruh produk yang tercemar. Perusahaan yang produknya tercemar nanti harus bertanggung jawab dengan membayar biaya pengobatan kepada pemerintah.
Krisis susu itu juga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas kontrol kualitas produk Tiongkok. Sebelumnya, serangkaian kasus keamanan produk makanan juga merebak. Misalnya, sea food, pasta gigi, dan makanan hewan peliharaan. Pada 2004, lebih dari 200 bayi Tiongkok terkena gizi buruk. Setidaknya, 12 bayi di antaranya tewas karena telah mengonsumsi makanan yang ternyata tidak mengandung nutrisi.
Berbagai masalah tersebut tentu akan berpengaruh kepada citra produk Tiongkok secara keseluruhan. Bukan tidak mungkin, nilai ekspor Tiongkok bakal ikut anjlok. Meski dikenal berharga murah, setidaknya, konsumen bakal berpikir dua kali sebelum menjatuhkan pilihan kepada barang atau produk buatan Negeri Panda tersebut. Karena bahkan produk mainan anak-anak dari negara itu pun bermasalah. Beberapa tahun lalu, sejumlah negara beramai-ramai melarang penjualan mainan anak-anak dari Tiongkok yang terbukti mengandung bahan berbahaya. (jpnn)
Mumbai (BCZ) India terus berusaha mengungkapkan siapa di balik
teror Mumbai. Dini hari kemarin WIB (2/12), New Delhi merilis daftar
teroris most wanted alias paling dicari. Daftar tersebut diserahkan
kepada High Commissioner Pakistan karena India tetap yakin bahwa negara tetangga mereka itu...
Perumahan Bukit Surya Indah (BSI) Residence yang dibangun PT Putera
Karyasindo Prakasa (PKP), membuat program khusus selama Ramadan. Bagi
konsumen yang membeli rumah di BSI, akan diberikan ketupat BSI senilai
Rp 10 juta. Menariknya, untuk mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR),
konsumen cukup...
BATAM —Ketatnya bisnis properti di Batam, membuat pengembang
dituntut kreatif untuk memasarkan produknya. PT Kurnia Djaja Mukmur
Abadi misalnya, membebaskan biaya legalitas kepemilikan rumah untuk
konsumennya yang membeli rumah di Kurnia Djaja. Saat ini, Kurnia Djaja
sedang menjual...