Angkutan bagi para pemudik untuk merayakan Natal terancam karena kapal Kelud harus naik DOK |
 |
Today's Must-Reads
Editorials
Mendengar janji penghapusan PP 63, Importir rame-rame daftar ulang ke BC
Penurunan harga BBM dinilai oleh anggota Dewan harus diiringi dengan penurunan tarif angkutan | |
|
Nama Mendunia, Gaji Rp2,4 Juta |
|
Senin, 22 September 2008 | 10:05:21 |
|
Ilmuwan-Ilmuwan Indonesia Berprestasi Global
Enam ilmuwan Indonesia masuk daftar Wise Index of Leading Scientists and Engineer. Daftar
tersebut dikeluarkan sebuah lembaga internasional berkredibilitas di
bidang sains dan teknologi. Siapa saja mereka? Mengapa dalam hal ini
kita masih kalah dengan Malaysia?
Malu. Itulah yang dirasakan Tjia May On ketika namanya masuk deretan Wise Index of Leading Scientists and Engineer bersama lima ilmuwan tanah air yang lain. Mengapa malu? Guru besar Fisika dari ITB (Institut Teknologi Bandung ) itu lantas membandingkan dengan negara lain.
''Malaysia
saja punya 27 ilmuwan yang diakui dunia. Sampai-sampai dalam daftar itu
kita ini masih kalah dengan Maroko, yang secara kultur dan
kesejahteraan masyarakat jauh di bawah Indonesia,'' kata profesor
berusia 74 tahun yang masih tampak energik ini ketika didatangi Jawa Pos di kantornya, kompleks kampus ITB, Jumat lalu (19/9).
Wise Index of Leading Scientists and Engineer adalah
sebuah daftar yang dikeluarkan Comstech (Standing Committee on
Scientific and Technological Cooperation), lembaga yang bertujuan
meningkatkan promosi serta kerja sama sains dan teknologi di antara
negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).
Nama
Tjia masuk deretan daftar tersebut karena konsistensinya dalam menekuni
bidang partikel kuantum dan kosmologi relativistik. Dia juga menekuni
penelitian polimer, optik nonlinier, dan superkonduktor.
Selama
33 tahun, Tjia tekun dengan penelitiannya itu, baik dilakukan secara
individu maupun tim. Hingga kini, profesor kelahiran Probolinggo 25
Desember 1934 itu telah menerbitkan dua buku teks, 24 penelitian
kolaboratif internasional, 86 jurnal ilmiah internasional, 44
presentasi simposium internasional, 44 publikasi jurnal nasional, dan
77 presentasi imiah nasional.
Sebagian karya ilmiahnya dipublikasikan di jurnal internasional Physical Review, Nuclear Physics, Physica C, International Journal of Quantum Chemistry, Review of Laser Engineering, dan Journal of Non-linear Optical Physics.
Tjia
menyelesaikan studi sebagai sarjana fisika pada 1962 di ITB. Setahun
kemudian dia melanjutkan belajar fisika partikel di Northwestern
University, Amerika Serikat, hingga meraih PhD pada 1969 dengan tesis
berjudul Saturation of A Chiral Charge-Current Commutator.
Pada 1966, risetnya bersama fisikawan CH Albright dan LS Liu masuk Physical Review Letters dengan judul Quark Model Approach in the Semileptonic Reaction.
Pada
awal 1960-an, para sarjana fisika di Indonesia baru mempelajari
partikel kuantum dan kosmologi relativistik. Dua bidang itu yang
mengubah pandangan dunia secara radikal-revolusioner awal abad XX
tentang alam semesta dan asal-usulnya. Sepuluh tahun kemudian, di
Indonesia hanya ada lima nama yang punya otoritas untuk berbicara
tentang kuantum dan relativitas. Salah seorang di antara mereka adalah
Tjia. Empat nama lain kala itu adalah Ahmad Baiquni, Muhammad Barmawi,
Pantur Silaban, dan Jorga Ibrahim. Mereka adalah angkatan pertama yang
jumlah penerusnya relatif sedikit dibandingkan dengan bidang fisika
terapan.
Tjia juga sempat ikut riset di International Center
of Theoretical Physics (ICTP), Trieste, Italia, yang didirikan
fisikawan peraih hadiah Nobel asal Pakistan, Abdus Salam. Saat itulah,
dia meninggalkan fisika partikel dan memasuki riset polimer, optik
nonlinier, dan superkonduktor. Dalam dua bidang terakhir itu, namanya
menginternasional.
Penggemar musik klasik karya Bach, Haydn,
Mozart, dan Beethoven itu lantas mengkritisi kebijakan pemerintah
Indonesia yang kurang berpihak kepada pengembangan ilmu. Salah satu
contohnya, tegas dia, adalah rendahnya kesejahteraan secara finansial
yang diberikan pemerintah kepada ilmuwan dan peneliti. ''Saya tidak
mencontohkan siapa-siapa, Anda lihat saya saja,'' ujar penerima
penghargaan Satyalencana Karya Satya itu.
Tjia menceritakan,
dia pensiun dari ITB dengan gaji Rp 2,4 juta. Sampai sekarang, dia
bahkan tetap tinggal di kompleks perumahan pegawai ITB. Layaknya
pegawai negeri sipil (PNS) lain, untuk memenuhi kebutuhan dapurnya, dia
bahkan masih sering ''mengamen'' mengajar di kampus lain. ''Seminggu
dua kali saya mengajar di Universitas Indonesia (UI), naik kereta biar
bisa baca-baca,'' tuturnya.
Tjia juga menyinggung seputar riset
Indonesia yang tertinggal jauh dari negara lain. Semua, lanjut dia,
mengarah kepada kesalahan pada sistem riset di Indonesia. Pertama,
karena memandang orang secara pragmatis, berdasarkan gelar saja. Kedua,
Indonesia belum sadar akan kekuatan riset. Dan, selanjutnya adalah
paradigma pemerataan yang menyesatkan.
Soal gelar itu, Tjia
konsisten. Ketika dia menjabat sekretaris jurusan (satu-satunya jabatan
birokrasi yang pernah dia emban), dia mengusulkan agar setiap papan
nama staf pengajar ITB tidak mencantumkan gelar. Dan, itu dia lakukan
selama menjabat.
''Zaman sekarang, setelah jadi doktor, orang
terus merasa jadi gusti,'' kritiknya. ''Indonesia punya banyak doktor,
tapi banyak yang mandul!'' sambungnya.
Di Amerika Serikat
(AS), terang Tjia, seorang ilmuwan bisa saja masuk ke dunia birokrat.
Menjadi kepala NASA, misalnya. Namun, di AS, track record
seorang calon kepala NASA benar-benar dilihat. Jadi, karya-karyanya
berupa hasil penelitian atau publikasinya yang menjadi pertimbangan. Di
sana, terang dia, orang yang benar-benar teruji dan berpengalaman saja
yang bisa duduk di posisi strategis semacam itu. ''Hasilnya jelas
memuaskan, kebijakan-kebijakannya benar-benar mengena dan dapat
membangun,'' tegasnya.
Menurut Tjia, hal itu menjelaskan
mengapa di Indonesia banyak kebijakan, terutama di dalam dunia sains
dan teknologi, yang tidak mengena dan terkadang justru melenceng jauh.
Selain itu, banyak dana riset hanya terbuang percuma karena tidak
efektif dan efisien akibat orang-orang yang berkecimpung di dalamnya
hanya bergelar doktor, tanpa karya dan kompetensi nyata.
Menurut
Tjia, pengajaran fisika di Indonesia justru membunuh kreativitas murid.
Baik yang diajarkan di setingkat SMP maupun SMA. Dia mencontohkan,
proses mengajar selama ini hanya ditekankan kepada satu proses
pemahaman fenomena alam, atau lazim dikenali sebagai proses deduktif.
Bila cara itu yang digunakan, proses itu tidak akan berhasil membuat
anak menjadi kritis analitis. Justru efek sampingnya membunuh
kreativitas anak. Terutama dalam upaya menyisir fakta-fakta dari
fenomena rumit untuk menghasilkan konsep hipotesis atau model teori
yang sederhana.
''Mengapa negara kita semrawut? Jawabannya karena orang hukum hanya bicara bukti, bukan fakta,'' katanya.
Dalam
pengajaran fisika di sekolah-sekolah menengah di Indonesia, menurut
Tjia, anak diajarkan terlatih menurunkan rumus. Namun, sebaliknya, anak
tidak diberi ruang untuk melatih melakukan generalisasi, abstraksi,
atau idealisasi dari fakta atau fenomena alam untuk merumuskan suatu
model teori. ''Padahal, dalam melakukan generalisasi inilah, tumbuh
kreativitas anak dalam melihat fenomena alam,'' katanya. (zul/kum/jpnn)
|
|  |
|
Internasional
-
Rio de Jeneiro (BCZ) Pemerintah Brasil telah mencapai kesepakatan
dengan Pemerintah Pakistan untuk menjual 100 rudal mereka ke Pakistan.
Mumbai (BCZ) India terus berusaha mengungkapkan siapa di balik
teror Mumbai. Dini hari kemarin WIB (2/12), New Delhi merilis daftar
teroris most wanted alias paling dicari. Daftar tersebut diserahkan
kepada High Commissioner Pakistan karena India tetap yakin bahwa negara tetangga mereka itu... |
Real Estate
-
Perumahan Bukit Surya Indah (BSI) Residence yang dibangun PT Putera
Karyasindo Prakasa (PKP), membuat program khusus selama Ramadan. Bagi
konsumen yang membeli rumah di BSI, akan diberikan ketupat BSI senilai
Rp 10 juta. Menariknya, untuk mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR),
konsumen cukup... BATAM —Ketatnya bisnis properti di Batam, membuat pengembang
dituntut kreatif untuk memasarkan produknya. PT Kurnia Djaja Mukmur
Abadi misalnya, membebaskan biaya legalitas kepemilikan rumah untuk
konsumennya yang membeli rumah di Kurnia Djaja. Saat ini, Kurnia Djaja
sedang menjual... |
|
|