|
Gaji Rp 5 Juta, Belum Tentu Wajib Zakat |
|
Jumat, 19 September 2008 | 15:03:09 |
Jakarta (BCZ) Upah minimum regional (UMR) tidak bisa dipakai sebagai standar atau patokan seseorang terkena kewajiban zakat profesi.
Hal tersebut dikemukakan pendiri Dompet Duafa Republika Eri Sudewo dalam sebuah diskusi di Dewan Perwakilan daerah (DPD), Jakarta, Jumat (19/9).
“UMR yang berlaku di Indonesia termasuk di ibukota sendiri, sangat berat untuk dikenai zakat profesi,” kata Ari.
Menurut Ari, zakat profesi adalah sesuatu yang dimiliki seseorang dari profesinya setelah semua kebutuhan hidup diri dan keluarganya terpenuhi.
“Itu pun kalau sudah mencapai nisab,” ujarnya.
Menurut Eri, nisabnya itu seperti zakat emas atau perak. Emas misalnya nisab itu 90 gram dan tinggal dikonversi.
Dia memberikan contoh, jika ada seseorang punya penghasilan Rp 5 juta, belum tentu kena kewajiban zakat profesi.
“Kalau setelah memenuhi kebutuhan hidup hanya tersisa Rp 250 ribu. Itu sedikit sekali,” kata Eri.
Jadi, lanjut Eri, kalau ada orang punya penghasilan Rp 5 juta, anaknya ada 10 tentunya dia bukannya surplus tapi malah nombok.
“Nah yang seperti ini malah harus menerima zakat bukan memberi zakat,” kata Eri. [rm/yat]
|