|
Samarinda (BCZ) Di saat umat Muslim tengah khusyuk menjalankan
ibadah di bulan Ramadan, seorang pemuda pengangguran bernama Aripudin
(25), warga Jl Cipto Mangunkusumo, Samarinda justru berbuat bejat.
Aripudin mengumbar napsu birahinya dengan memperkosa seorang gadis yang merupakan temannya sendiri berinisial Srintil (20). Naasnya lagi, Srintil sudah memiliki tunangan dan rencananya, akan menikah setelah Lebaran nanti. Aripudin diciduk polisi kala bersembunyi di rumah temannya.
Srintil dan Aripudin memang saling kenal. Namun diantara mereka tak ada hubungan khusus alias teman biasa. Peristiwa naas yang dialami Srintil bermula, ketika malam itu sekitar pukul 19.00 WIB, Aripudin datang berkunjung ke rumahnya. Saat itu Aripudin mengajak Srintil berbelanja pakaian di Pasar Berkat Wisma, Samarinda.
Karena merasa kenal baik, Srintil pun tak menolak ajakan Aripudin. Dengan menggunakan angkutan kota (angkot), pergilah mereka ke pasar. Usai berbelanja pakaian, dengan alasan hendak mengganti baju dengan yang baru dibelinya, Aripudin pun mengajak Srintil singgah ke kamar kos seorang temannya yang terletak tak jauh dari pasar.
Sesampainya di kamar kos dimaksud, Aripudin mengajak Srintil masuk ke dalam. Entah apa yang ada di benak Aripudin, tiba-tiba saja ia mengajak Srintil berhubungan badan. Korban tentu saja terkejut dan terang-terangan menolak ajakan itu.
Meski ditolak, Aripudin terus saja memaksa. Bahkan memeluk tubuh Srintil sambil berusaha melepas pakaian yang dikenakan gadis berjilbab itu. Srintil pun berteriak sambil meronta. Ketika itulah Aripudin mengambil sebilah parang yang ada di kamar kos itu dan dipakai mengancam Srintil.
"Dia bilang akan membunuh dengan parang kalau saya coba-coba berteriak atau menolak permintaannya," ujar Srintil.
Merasa takut, Srintil pun pasrah ketika Aripudin melampiaskan napsunya sebanyak satu kali. Setelah puas, Aripudin menyuruh Srintil berpakaian lalu mengantarkannya pulang.
"Sebelum pulang, dia kembali mengancam akan membunuh saya kalau berani menceritakan kejadian itu ke orang lain," pungkas Srintil lagi.
Ancaman Aripudin ternyata ampuh. Srintil tak berani menceritakan perkosaan yang dialaminya kepada orangtuanya. Waktu itu, Srintil hanya mengatakan, dia diancam Aripudin menggunakan parang tanpa sebab atau tujuan yang pasti.
Karena tak tahan dengan penderitaan batin akibat peristiwa memalukan itu, keesokan malamnya, barulah Srintil bercerita dia telah diperkosa Aripudin setelah sebelumnya diancam menggunakan parang. Tak terima dengan perbuatan Aripudin kepada anak kesayangan mereka, kedua orangtua Srintil pun mengadukan perbuatan tak senonoh itu ke kantor polisi.
Kapolsek Samarinda Seberang AKP Sutrisno SIK, melalui Kanit Reskrim Seberang Iptu S Panus menyatakan polisi masih memintai keterangan korban dan pelaku untuk mengetahui bagaimana kronologi perkosaan itu. Korban akan divisum guna melengkapi berkas pemeriksaan yang dilakukan polisi.
"Selain menangkap pelaku kami juga telah mengamankan parang, pakaian yang dikenakan pelaku maupun korban saat terjadinya perkosaan sebagai barang bukti," tegas Sutrisno. (jpnn)
|