|
Demo Tolak Pengesahan UU Pornografi |
|
Selasa, 16 September 2008 | 09:45:05 |
|
Masyarakat dan DPRD Bali Tegaskan Sikap
DENPASAR - Rencana pengesahan UU Pornografi 23 September
nanti langsung menuai reaksi di Bali. Berbagai elemen masyarakat Pulau
Dewata itu berunjuk rasa ke DPRD setempat guna menyuarakan penolakan.
Mereka menilai UU tersebut hanya akan memasung seni budaya Bali.
Demo
yang diprakarsai oleh Ardham (Aliansi Rakyat untuk Demokrasi dan HAM)
itu diawali dengan orasi di kampus Universitas Udayana, dilanjutkan long march menuju perempatan Jalan Sudirman, lalu berakhir di gedung dewan.
Humas
Ardham Haris dengan lantang menolak karena UU tersebut tidak punya
batasan jelas, juga membingungkan dan menimbulkan banyak penafsiran.
Menurut dia, UU Pornografi adalah bentuk intervensi negara terhadap
moral warganya. "Kenapa mesti ngurusin pornografi yang batasannya tak jelas. Mending korupsi dan kemiskinan negara ini diurus," ujar salah seorang orator.
Para pengunjuk rasa itu membawa berbagai poster berisi pernyataan-pernyataan keras. Di antaranya: Jangan jadikan Tuhan untuk legitimasi pengesahan RUU Pornografi; Rakyat butuh makan, bukan RUU Pornografi; Mana lebih porno? DPR atau masyarakat? "Malah, banyak anggota DPR yang mesum hingga tersiar kepada publik," imbuh orator lainnya.
Tak
hanya itu, di tengah-tengah orasi ada pendemo yang mengusulkan agar
melepaskan pakaian sebagai penolakan terhadap UU tersebut. Ada juga
yang membuka celana panjang.
Pendemo kemarin (15/9) diterima
oleh Wakil Ketua DPRD Bali IGK Adhiputra dan Ketua Komisi I I Made
Arjaya. Adhiputra menjelaskan bahwa DPRD Bali bulat menolak UU
Pornografi.
Bahkan, penolakan dilakukan sejak 2006. Mereka
mengirimkan surat penolakan secara resmi kepada DPR dan presiden.
"Penolakan itu bersifat tetap. Hingga saat ini pun kami tetap menolak,"
tegasnya disambut tepuk tangan.
Sedangkan Arjaya mengaku siap
mendatangi DPR jika memang pengesahan UU Pornografi tetap dilakukan.
"Kami siap menjelaskan sikap-sikap penolakan Bali kepada pusat,"
ucapnya.
Selain itu, Ardham memaksa agar dewan ikut buka baju
sebagai simbol penolakan. "Buka baju, buka baju, buka baju!!" teriak
pendemo.
Seperti diketahui, aksi seperti itu pernah terjadi
secara besar-besaran pada 2006. Bahkan, ribuan warga turun ke jalan
untuk menolak, termasuk nenek-nenek dan kakek-kakek yang menari di
jalan dengan bertelanjang dada. (art/jpnn/ruk)
|