|
Super Toy di Mata Pakar Pertanian UGM |
|
Rabu, 10 September 2008 | 10:55:34 |
Jenis Padi Lama, Dikenal sebagai Pari Jawa
Yogyakarta (BCZ) Super Toy menjadi sorotan publik. Ini setelah para petani yang diminta
menguji coba padi oleh PT Sarana Harapan Indopangan tak menghasilkan
seperti yang dijanjikan. Benarkah Super Toy HL-2 bisa dipanen tiga kali
dalam sekali tanam?
TAK ADA yang istimewa pada Super Toy. Begitu penegasan tim peneliti padi dari Fakultas Pertanian UGM. Mereka membantah jika padi Super Toy merupakan jenis varietas padi yang bisa menghasilkan produksi 15 ton per hektare.
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa Super Toy termasuk dalam kelompok padi tipe lama atau yang bisa disebuat Pari Jawa, dengan kapasitas produksi 3 - 4 ton per hektare saja.
''Super Toy kan hanya hasil penyilangan dari varietas padi rojolele dengan pandanwangi. Artinya, jenis Super Toy bukan jenis varietas yang memiliki potensi produksi tinggi,'' tegas Peneliti Pemuliaan Tanaman Ir Supriyanta MP kemarin. Supriyanta menyampaikan pendapatnya itu bersama Peneliti Jurusan Budidaya Pertanian Dr Ir Djoko Prajitno MSc.
Supriyanta menambahkan, keunggulan kedua varietas itu - Pandanwangi dan Rojolele--terletak pada karakter cita rasa nasinya yang memiliki aroma harum. Bukan pada hasil produksinya.
Jika sebelumnya disebutkan, padi Super Toy dapat dipanen tiga kali setelah jerami dipotong dapat dipanen tunasnya (ratooning) itu juga bukan hal baru. Menurut Supriyanta, dalam budidaya pertanian adalah hal biasa tuna yang dipotong akan tumbuh karena secara biologis sebagian besar jenis padi mampu menghasilkan biji dari singgang (tunas) baru setelah jerami dipotong.
''Meskipun hasil biji dari tunas biasanya tidak lebih tinggi dari hasil biji penanaman pertama. Dengan sistem ratooning, padi ini dapat dipanen tiga kali, bukanlah hal yang mengherankan apalagi dijadikan keunggulan, sebaliknya justru mengandung banyak potensi masalah karena adanya serangan hama karena tidak adanya pergililran tanaman ataupun pergiliran varietas," tambah pria asal Klaten ini.
Sistem ratooning ini pula, menurut hemat Djoko Prajitno, menyebabkan terjadinya gagal panen padi Super Toy di Purworejo. Menurut Prajitno, sistem penanaman padi secara ratooning menyebabkan batang padi menjadi empuk dan mudah ambruk. Padahal, di daerah Jawa sudah lama dianjurkan tidak melakukan budidaya padi secara "ratooning" karena menstimulir munculnya serangan hama yang cukup dahsyat.
Pihak Departemen Pertanian telah menarik padi Super Toy dari peredaran untuk dilakukan uji stabilitas, tapi Fakultas Pertanian UGM, kata Djoko Prajitno selalu membuka diri untuk dilakukan uji ketahanan dan resistens terhadap hama dan penyakit. Seperti yang diakuinya, tipe padi itu kurang tahan terhadap serangan hama.
Djoko menyarankan agar pemerintah dalam hal ini Komisi Pelepasan Varietas Deptan, untuk tidak asal melepas jenis varietas padi baru kepada petani tanpa melalui berbagai ujicoba secara komprehensif.
"Sebab hal itu berpotensi merugikan petani ditengah kondisi para petani saat ini justru sangat memprihatinkan, karena harga gabah sudah ditentukan oleh pemerintah, sementara harga pupuk semakin melambung," tegasnya.
Setidaknya varietas yang diluncurkan itu merupakan generasi ketujuh atau kedelapan dari hasil kombinasi penyilangan varietas, dan sudah melalui uji lokasi sedikitnya 15 sampai 20 lokasi berbeda, serta telah melalui uji stabilitas. (jpnn)
|