|
Rabu, 3 September 2008 | 20:43:40 |
Jakarta (BCZ) Dikotomi wacana calon pemimpin nasional dari sipil atau militer sudah bukan saatnya lagi diperdebatkan.
Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto menegaskan kembali bahwa isu dikotomi sipil – militer dalam Pilpres 2009 sudah usang.
“Tidak perlu dipersoalkan, justru akan terjadi kontraproduktif, karena tidak menghasilkan figur yang berkualitas,” paparnya.
Wiranto, purnawirawan jenderal bintang empat yang pernah menjadi Menhankam/Panglima ABRI zaman Orde Baru itu mengaku bahwa dirinya bukan lagi disebut militer.
“Setelah pensiun, saya sudah menjadi orang sipil tulen dan tidak lagi ada fasilitas militer yang saya nikmati lagi,” tegas mantan Capres Golkar 2004 ini.
Ia menegaskan, tidak semua capres militer itu militeristik. Banyak ragam orang di militer itu. Ada seleksi ketat berdasarkan prestasi, keahlian dan kemampuan masing-masing yang menentukan dia jadi prajurit atau komandan.
“Saat ini yang relevan mencari pemimpin nasional adalah, apakah dia tahu permasalahan bangsa dan tahu bagaimana mengatasinya. Kita jangan terjebak pada isu-isu yang sempit seperti dikotomi itu,” pungkasnya. [rm/iga]
|