Batam (BCZ) Teh merupakan minuman yang paling mudah ditemui.
Bahkan, bisa dianggap salah satu daily drink masyarakat hampir di semua
negara setelah air putih.
Selain menyegarkan, teh mempunyai manfaat lain. Yaitu, mencegah terjadinya proses aterogenesis (pembentukan tempelan lemak di dinding pembuluh darah). Hal ini disampaikan oleh Dr Siti Nur Chusnul Yusmiati STp MKes.
Sebagaimana tumbuhan berwarna kuat lain (merah, kuning, ungu) teh juga mengandung polifenol. Bahan ini mempunyai struktur ikatan rangkap yang bereaksi dengan radikal bebas. Itulah sebabnya, polifenol begitu penting dikonsumsi. Bahan ini bersifat antioksidan.
“Ini merupakan senyawa yang bisa mengikat radikal bebas dan menekan proses oksidatif,” jelasnya.
Bahkan, teh mempunyai kadar polifenol paling tinggi. Lebih spesifik, teh hijau dan teh merah. Teh hijau merupakan teh yang berasal dari pucuk daun pohon teh yang diolah tanpa fermentasi. Teh hijau mempunyai taste pahit dan sepat ketika dicecap. Ketika diseduh, warnanya bening kehijauan. Teh merah disebut juga teh rosela. Ini bukan berasal dari pohon teh. Melainkan dari mahkota bunga rosela. Berbeda dengan kebanyakan teh, rosela mempunyai taste sedikit asam. Sebab, terdapat kandungan asam sitrat dan asam askorbat.
Dengan mengonsumsi teh hijau maupun teh rosela, maka pasokan antioksidan dalam tubuh yang tadinya tak cukup ampuh menangkal si radikal bebas, bertambah. Kondisi ini akan memperbaiki stres oksidasi.
“Efek baik lainnya, kecepatan proses pembentukan sumbatan oleh lemak di pembuluh darah juga diperlambat. Sehingga risiko penyakit kardiovaskuler bisa dihindari,” tambahnya.
Untuk mendapatkan manfaat tersebut, bisa didapat dengan mengonsumsi 2-5 cangkir teh hijau atau teh merah setiap hari. Berdasar survei yang dilakukan di beberapa negara, mereka yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi 2-5 gelas teh hijau setiap hari selama 10 tahun berisiko artherosklerosis lebih kecil.
Namun, memang, supaya bahan aktif dalam teh hijau dan teh merah tidak banyak terbuang, cara penyajiannya harus tepat. Menurut Chusnul, baik teh hijau maupun teh merah cukup disajikan dengan jalan diseduh air panas bersuhu 80 derajat Celsius. Ini setara dengan suhu air panas dalam termos.
“Hindari menyeduh dengan air bersuhu lebih tinggi untuk mengindari kemungkinan terbuanganya zat-zat aktif di dalam teh.”
Lantas kapan teh hijau dan teh merah mulai dikonsumsi?
“Sedini mungkin,” tegas Chusnul.
Sebab, pada dasarnya tubuh secara alami membentuk foam cell. Karena, tubuh memproduksi kolesterol alami. Bahkan, sejak bayi dilahirkan ke dunia, foam cell tersebut sudah terbentuk. Karena alasan itulah pemberian antioksidan sedini mungkin bisa membantu.
“Teh mungkin bisa diberikan saat bayi berusia 6 bulan. Saat sudah tidak mengonsumsi ASI eksklusif,” katanya. (ign/nda)
|