|
Mitan Mahal, Nelayan Segel Keran Pertamina |
|
Kamis, 28 Agustus 2008 | 10:06:32 |
|
SEMARANG -
Ratusan nelayan Tambaklorok, Semarang Utara, yang tergabung dalam
Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) berunjuk rasa memprotes
kelangkaan minyak tanah (mitan) bersubsidi. Selain melakukan demo,
massa menyegel instalasi stasiun keran pengisian BBM milik Pertamina.
Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas kebijakan Pertamina yang
mencabut subsidi minyak tanah per 1 September mendatang.
Nelayan
merasa kecewa. Sebab, setelah kenaikan solar per liter menjadi Rp 6
ribu pada Mei lalu, mereka telah beralih ke minyak tanah sebagai bahan
bakar motor tempelnya.
Pencabutan subsidi jelas mengancam
kehidupan sekitar 3 ribuan nelayan di sana. Sebab, dengan minyak tanah
yang kini harganya melonjak, nelayan harus beralih ke solar lagi.
Padahal, nelayan menyatakan, harga solar yang juga tinggi tak sebanding
dengan pendapatan mereka.
Nelayan mengaku sudah sampai pada
puncak keresahan. Sebab, kini minyak tanah telah langka. Kalaupun ada,
hargaya mencapai Rp 4 ribu-Rp 5 ribu per liter. Padahal, setiap melaut,
mereka butuh sekitar 30-50 liter. "Pendapatan per kapal rata-rata cuma
Rp 30 ribu. Itu dibagi banyak orang. Lha kalau subsidi dicabut, itu sama saja dengan membunuh kami," keluh Ikhwan, 39, salah seorang nelayan.
Aksi
dimulai dari Pasar Ikan Tambaklorok pada pukul sembilan. Ratusan
nelayan berjalan berbaris satu-satu ke belakang. Membentuk ular-ularan,
mereka membawa jeriken-jeriken kosong yang diikat. Itu sekaligus
sentilan bagi Pertamina yang menganggap kesusahan masyarakat sebagai
sesuatu yang indah dipandang.
Untaian jeriken diletakkan di
depan stasiun keran pengisian BBM. Dikomandoi koordinator aksi Timopthy
Sterry Joel, nelayan kemudian menyegel keran dengan sebuah poster
bertulisan Keran ini disegel oleh warga nelayan Tambaklorok.
"Pemerintah
harus serius memperhatikan kami. Di sini ada sekitar 647 perahu dengan
3 ribu lebih nelayan yang akan kehilangan penghidupan," kata Joel.(dib/jpnn/end)
|