|
Menilik Penjualan Ginjal di Singapura (3) |
|
Selasa, 29 Juli 2008 | 17:02:08 |
|
Mencari Penjual dan Pembeli Sama Susahnya
Galang (BCZ) Mencari para penjual ginjal diakui oleh Lyan sama susahnya seperti mencari pembeli ginjal tersebut.
Dalam pengakuannya, Lyan menyatakan untuk mendapatkan seorang pembeli kadang akan memerlukan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.
“Kalau untuk penjualnya biasanya dicari dari kalangan petani yang membutuhkan uang dalam waktu yang singkat. Namun mereka umumnya mengkhawatirkan akan adanya efek samping setelah ginjal mereka diambil,” kata Lyan.
Para penjual yang merupakan para pekerja keras ini mengkhawatirkan mereka tidak akan bisa bekerja lagi setelah menjalani operasi tersebut.
“Mereka mengkhawatirkan tentang keselamatan mereka setelah transplantasi ginjal dilakukan. Bahkan ada juga yang mengkhawatirkan tidak bisa melakukan aktivitas seksual mereka jika mereka kehilangan salah satu ginjalnya,” ungkapnya.
Salah seorang calon penjual ginjal yang berhasil ditemui, Muhamad Hisab Lubis (31) menyatakan dirinya bersedia menjual ginjal karena memerlukan uang.
“Untuk hidup keseharian saja saya hanya bisa mendapatkan uang sejumlah Rp20 ribu perhari. Sementara saya masih harus membiayai istri dan seorang anak saya. Bahkan angsuran motor ini saja kadang nunggak,” katanya.
Lubis yang datang dengan mengendarai sebuah sepeda motor terlihat bersemangat ketika menceritakan tentang besarnya bayaran yang akan ia terima nantinya.
“Uang tersebut akan saya gunakan untuk melunasi kredit motor ini dan juga untuk keperluan bisnis saya nanti. Saya tidak takut untuk menjalani operasi. Hal ini terpaksa saya lakukan karena saya miskin,” tambah Lubis. (jhs)
|