Biru Tua Untuk Pemimpin Tertinggi
Batam (BCZ) Bagi warga
keturunan Tionghoa penganut agama Khonguchu, sembahyang adalah suatu
kebiasaan yang harus dilaksanakan umat agama Khonghucu.Sementara untuk
menyelenggarakan ritual di klenteng nabi Khong Hu Chu harus dipimpin
wali agama atau pemuka agama.
Soedarmadi selaku ketua MAKIN Batam saat ditemui belum lama ini mengatakan, setiap ritual keagamaan harus dipimpin oleh pemuka agama (wali) sebagai pemimpin untuk memulainya suatu ritual.
Untuk menyelenggarakan kebaktian jelas Soedarmadi, ada tiga orang pengasuh untuk mengurus proses kebaktian yang akan berlangsung, pengasuh tersebut sebagai penanggung jawab berlangsungnya kebaktian.
" Tiga orang pengasuh sebagai penyelenggara karena tanpa ada pengasuh, proses kebaktian tidak akan berlangsung," jelasnya
Sementara pemimpin kebaktian kata Soedarmadi hanya satu orang dibantu oleh dua orang pembantu wali yang bertugas untuk membantu segala aktivitas kebaktian.
" Seorang wali biasa disebut Haksu, Binsu, Kausang dan ada seorang wali disebut sesepuh," cetusnya
Sedangkan pakaian yang dikenakan pengasuh, wali dan pembantu berbeda-beda sesuai dengan tingkatan mereka masing-masing. Bagi pemimpin wali yang disebut Haksu lanjutnya, biasa memakai baju jubah biru muda, sementara pemimpin sesepuh biasa memakai jubah kuning. Lebih jauh lagi ia menjelaskan, sedangkan baju jubah untuk pemimpin Binsu memakai baju berwarna merah,sedangkan baju pemimpin kausang memakai baju berwarna biru tua.
"Setiap tingkatan pemimpin agama ditentukan oleh warna jubah, perbedaan ini nampak saat ada upacara besar para pemimpinnya memakai jubah berbeda dengan yang lain yaitu jubah model Changsan,"terangnya
Sementara model jubah yang dipakai pemimpin upacara, berbeda dengan yang lain. Seperti yang dipakai pemimpin upacara biasanya ememakai biru tua,sedangkan pembantu upacara memakai jubah berwarna biru muda.
" Biasanya Pakaian rohaniawan, yang mengikuti upacara memakai baju seragam hitam putih memakai dasi dan kemeja," jelasnya (BN/c)
|