Kunjungan Wartawan Kepri ke Singapura (3-Habis)
Oleh: Yunus Suchari
Redaktur Pelaksana Batam News
Memasuki hari ketiga, Jumat (4/7) kunjungan kami diarahkan ke Yayasan Antarabangsa Singapura (Singapore International Foundation/SIF). Di gedung yang beralamatkan di 9 Bishan Place, Junction 8 Singapore itu, kami disambut oleh Senior Manager SIF Wen Yong Xing dan Manager Corporate Communications Leong Wen Shan.
Sejak berdiri pada 1992 silam, SIF ini telah mengadakan berbagai kegiatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan di Batam, SIF bekerja sama dengan Yayasan Keluarga Batam, membuat program yang berkaitan dengan masalah kesehatan kerja. SIF mengirim beberapa tenaga ahli di bidang kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang menjaga kesehatan kerja serta cara mengobatinya.
Sementara untuk di wilayah Indonesia lainnya, SIF melakukan serangkaian kegiatan pendidikan dan praktik di bidang kesehatan di Malang, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1992 dan 1996. Program lainnya yang dijalankan SIF, antara lain pada 2001 hingga 2007, SIF menjalankan program proyek transfusi darah di Solo, Jawa Tengah, lalu program bedah rekonstruksi di Surabaya (2007 hingga sekarang), pendidikan perawatan keadaan darurat di malang (2007) dan psikiatri geriatrik berbasis masyarakat di Lawang (2008). Pasca bencana tsunami di Aceh, SIF mengambil bagian dalam beberapa proyek sebagai dukungannya terhadap upaya rekonstruksi Aceh. Salah satu bentuk kepedualian SIF terhadap masyarakat Aceh adalah dengan dibangunnya Sekolah Asrama Terpadu Fajar Hidayah.
Selesai dari SIF, kami lalu dibawa ke Lembaga Pembangunan Ekonomi Singapura (Economic Development Board/EDB). Dengan tegas dan terinci, Senior Officer EDB Stephanie Tan yang didampingi Executive Director EDB Thong Pao Yi, menerangkan peran penting EDB terhadap perkembangan ekonomi Singapura.
Di kesempatan itu juga kami bicara soal free trade zone (FTZ) untuk wilayah Batam, Bintan dan Karimun (BBK). Mereka juga heran kenapa hingga sekarang FTZ belum juga diberlakukan di wilayah BBK. Padahal, perjanjian serta persetujuannya sudah berlangsung dua tahun lalu. Sehingga demikian, banyak perusahaan asing yang akan berinvestasi di Batam masih ragu-ragu untuk menanamkan modalnya di Batam dan sekitarnya.
Usai sebagian dari kami melakasanakan salat Jumat, kami lalu bertemu dengan Batamindo Business Council (BBC). BBC merupakan asosiasi pengusaha asing di Batamindo, Mukakuning. Rombongan BBC waktu itu diwakili oleh Manager BBC Kuru SM, President BBC Loh Cheng Chuen, 2nd Vice President Cheo Chai Siew dan Executive Admin & Finance BBC Rainy, juga selaku penerjemah.
Di pertemuan itu, BBC mempersoalkan bila FTZ itu diimplementasikan di wilayah BBK. Mereka menginginkan kepastian dari pihak pemerintah Indonesia tentang kebijakan FTZ itu untuk investor yang ada maupun yang akan datang. Selain itu, ada beberapa harapan yang dibeberkan BBC. Antara lain soal tax holiday yang kalau bisa berlaku dalam kurun waktu 5 tahun. Pemerintah juga diharapkan mempermudah untuk membangun Resources and Development (R & D). Corporate tax yang 30 persen masih dianggap terlalu tinggi, kalau bisa kurang menjadi 20 hingga 25 persen. Perhitungan pembayaran pajak diusulkan dilakukan di akhir tahun. Dan, untuk urusan keimigrasian seperti work permit, fiskal dijadikan serentak dan berlaku untuk dua tahun.
Sekitar pukul 15.30 waktu setempat, kami lalu dibawa ke Taman Warisan Melayu Singapura (Malay Heritage Centre). Di sana terdapat Istana Kampong Gelam yang berdiri kokoh di wilayah Kampung Glam di daerah Bugis, Singapura. Di sana kami bertemu dengan GM Malay Heritage Eddy Noor Hassan dan Senior Manager & Head Malay Heritage Khalid Shukur Bakri.
Kampong Glam atau nama aslinya “Kampung Gelam” merupakan pemukiman awal masyarakat Bugis dan Jawa dari Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai pemukiman Melayu pertama yang didirikan oleh Sir Stamford Raffles pada tahun 1819.
Nama Kampong Glam berasal dari nama pohon Gelam yang dulu banyak tumbuh wilayah itu.
Saat ini, lokasi yang dulunya merupakan Istana Kampong Glam atau Istana Sultan, kini telah mejadi museum sejarah budaya bernama Malay Heritage Centre atau taman warisan Melayu yang menampilkan kekayaan sejarah dan budaya masyarakat Melayu Singapura. Bangunan dan arsitekturnya mengalami sejumlah pemugaran tanpa menghilangkan keunikan dan keaslian bangunan.
Di istana ini juga kerap dilakukan beragam aktivitas dan acara budaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan budaya Melayu. Selain itu, terdapat sebuah bangunan penting di Kampong Gelam yakni Masjid Sultan, yang merupakan masjid terbesar di Singapura.
Asiknya di Sentosa
Setelah puas mengelilingi Istana Kampong Gelam, dengan menaiki minibus yang disupiri Mohd Noor, kami menuju ke Sentosa. Tiba di sana, sekitar pukul 18.30 waktu setempat, kami diajak menaiki Tiger Sky Tower. Untuk menaiki Sky Tower itu masing-masing orang harus membayar 12 dolar Singapura untuk dewasa dan 8 dolar Singapura untuk anak-anak. Dari ketinggian 110 meter, kami bisa melihat pemandangan sekitar Singapura, Malaysia dan Batam. Usai dari situ, kami lalu melihat pertunjukan Singing of the Sea. Pertunjukan yang diadakan di tepi pantai itu, ditonton oleh ribuan pengunjung dari berbagai negara. Di sana kami disuguhkan drama musikalitas dengan teknologi permainan sinar laser dan semprotan air yang memukau.
Usai menyaksikan pertunjukan yang memakan waktu sekitar 40 menit itu, kami lalu menuju ke Underwater World, yang lokasinya masih di kawasan Sentosa. Di sana, kami menyaksikan ribuan kekayaan biota laut, yang terdiri dari ikan, penyu, kuda laut, kepiting, udang dan lainnya dari berbagai ukuran serta asal. Pulang dari sana, kami lalu makan malam bersama di daerah Newton sambil menyantap makanan laut (seafood).
Hari Keempat, Sabtu (5/7), sebelum pulang, kami diajak Zaitun Ali dan Nooraini Hamzah ke New Water. Di tempat itu, kami diterangkan seputar proses daur ulang air yang untuk dikonsumsi warga Singapura. Setelah itu, dua dari kami diantar ke Tanah Merah untuk melanjutkan perjalanan ke Tanjungpinang. Sedangkan saya dan dua rekan lainnya diantar ke Harbourfront. Demikian perjalanan kami selama empat hari ke negeri singa, yang penuh dengan kenangan dan harapan.***
|