|
Batam (BCZ) Ny. Dian merasa cemas karena Beben (3) putra pertamanya ini sangat aktif.
Jarang sekali duduk manis di tempatnya. Lari-lari, panjat memanjat,
keliling dan jalan terus.
“Apakah anak saya hiperaktif ya, Dok,” kata Dian dengan wajah cemas.
dr Rismarini SpA, dokter dari Divisi Tumbuh Kembang Anak Rumah Sakit dr M Hoesin (RSMH) Palembang mengatakan, anak aktif belum tentu hiperaktif. Sebab, pada usia pra sekolah 2-6 tahun, aktivitas motorik anak sedang tinggi.
“Mereka sedang aktif-aktifnya. Semuanya menarik perhatian mereka, semua ingin dicoba. Dan itu normal,” jelas Rismarini.
Karena itulah, pada usia tersebut berat anak biasanya relatif tidak bertambah. Setiap tahun hanya sekitar 2 kg kenaikan berat badanya.
Anak yang benar-benar hiperaktif atau dinilai abnormal, hanya sedikit. Hanya sekitar 4-6 persen. Dan biasanya anak laki-laki yang paling banyak menderita hiperaktif. Perbandingannya enam kali lebih banyak dibandingkan perempuan.
Untuk memvonis apakah anak hiperaktif atau bukan tidak gampang. Ada beberapa gejala khusus yang bisa menjadi standar penilaian. Yakni adanya gangguan aktivitas dan gangguan pemusatan perhatian.
“Bisa salah satunya yang dominan atau keduanya,” jelas staf medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang ini.
Gangguan aktivitas (impulsive) itu bisa dilihat dari beberapa gejala. Pertama, anak tidak bisa duduk diam, selalu bergerak. Seolah-olah ada motor yang menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa berhenti kalau sedang tidur.
Kalaupun dipaksa untuk duduk diam, misalnya saat di sekolah, ia bisa duduk. Namun, tangan, kaki dan kepalanya tetap bergerak.
“Jadi kalau dipaksa duduk, oleh guru misalnya, ia mau duduk. Tapi tangan, kaki dan kepalanya tetap bergerak dan digoyang-goyangkannya,” urai Ris.
Apabila berbicara selalu berlebihan. Kalau kita tanya sedikit, jawabannya panjang dan banyak. Anak hiperaktif juga biasanya selalu menyela pembicaraan orang lain.
Sedangkan, gejala gangguan pemusatan perhatian di antaranya anak tidak bisa menyelesaikan suatu pekerjaan atau permainan. Sebab, perhatiannya sering terpecah dengan hal lain.
“Anak hiperaktif ini mengalami gangguan pemusatan perhatian, jadi hal baru langsung menarik perhatian mereka. Sehingga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, ia tidak bisa konsentrasi,” beber Ris.
Mereka juga menghindari tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi. Karena gangguan tersebut, anak hiperaktif sering dicap nakal dan bodoh. Nakal, karena mereka tidak bisa diam dan menurut. Sedangkan bodoh, karena mereka tidak bisa menyelesaikan tugas sekolah atau suatu permainan.
Meskipun ada beberapa gejala ini, namun, seorang tidak serta merta langsung tergolong hiperaktif. Seorang anak dikatakan hiperaktif, kalau beberapa gejala tadi muncul sebelum anak berusia tujuh tahun dan menetap selama enam bulan. Kemudian, gejala tadi selalu muncul di setiap kondisi. Atau minimal dua kondisi.
“Misalnya di rumah, di sekolah, di mall, semuanya menunjukkan gejala yang sama, itu dikatakan hiperaktif. Tetapi kalau anak aktif saat di rumah saja, di sekolah atau di mall tidak, itu artinya normal,” terang Rismarini. (jpnn/14)
|