|
Osaka - Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ismeth Abdullah,
mengemukakan, pihaknya menargetkan untuk memboyong 100 investor Jepang,
khususnya dari wilayah Kansai (meliputi Osaka, Kobe, dan Kyoto) dalam
lima tahun ke depan, menyusul prospek investasi yang sedang dibangun di
kawasan perdagangan bebas di Batam, Bintan, dan Karimun.
Demikian disampaikan Ismeth Abdullah dalam acara forum bisnis yang digelar bersama antara KJRI Osaka, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Japan-ASEAN Center, dan Kementerian Perdagangan serta Perindustrian Singapura di Hotel Imperial, Osaka, Rabu (2/7).
”Saat ini, sudah ada sekitar 60 perusahaan Jepang yang beroperasi di Batam, dan upaya untuk melipatgandakan jumlah perusahaan-perusahaan dari Jepang nampaknya bisa terus didorong, meski Jepang sedang mengalami kelesuan dalam pertumbuhan ekonominya,” ujar mantan Kepala Otorita Batam itu.
Gubernur juga menyampaikan pemberian informasi yang kontinyu dan sosialisasi yang rutin mengenai situasi terkini iklim investasi Indonesia yang membaik dapat menarik kembali investor Jepang ke Indonesia, khususnya Batam, Bintan dan Karimun (BBK), yang kini sudah menjadi kawasan perdagangan bebas.
Ia menargetkan pada tahun 2008, pihaknya mampu meraih nilai investasi sebesar1 miliar dolar AS. Sementara itu, Konsul Ekonomi KJRI Osaka, Ibnu Wahyutomo, mengemukakan, apa yang ditargetkan oleh Gubernur Kepri itu, patut didorong sebagai salah satu upaya mendatangkan investasi di tanah air. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kegiatan mendatangkan investasi perlu juga memberikan manfaat atau nilai tamah yang maksimal bagi bangsa Indonesia.
”Alih teknologi yang sesungguhnya patut dipertimbangkan, apalagi jika mengingat pandangan seorang akademisi Jepang yang menganalisis soal tujuan investasi Jepang ke Indonesia bahwa selama ini hanya untuk menjadikan Indonesia basis bagi industri manufakturnya semata,” katanya.
Sebagai ganti dari kegiatan tersebut, kata Ibnu, Jepang menuntut disediakannya jaminan pasokan energi dari Indonesia ke Jepang secara stabil, terutama suplai gas.
Proyek Percontohan
Target untuk memboyong 100 investor Jepang di hadapan sekitar 200 pengusaha wilayah Kansai itu ke kawasan BBK dapat dipahami, mengingat rasio perdagangan bilateral antara Indonesia - Jepang selama 2007, wilayah Jepang bagian barat, termasuk Kansai, menyumbangkan 21 persen lebih dari keseluruhan nilai perdagangan kedua negara yang mencapai 35,5 miliar dolar AS
Bidang usaha yang menjadi primadona bagi investor Jepang umumnya di sektor logam, mesin, elektronik, motor, dan peralatan transportasi.
Dalam acara forum bisnis tersebut juga tampil sebagai pembicara Kepala BKPM, M Lutfi, Menteri Perdagangan, Mari Pangestu, dan juga pejabat dari Kementerian Perdagangan dan Perindustrian Singapura. Baik Mari Pangestu maupun Lutfi, sama-sama menjadikan kawasan free trade zone di BBK, sebagai proyek percontohan bagi kegiatan mendatangkan investasi ke Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, hadir sekitar 200 pelaku usaha di wilayah Kansai, seperti perusahaan Matsushita Electric, Sharps, Sanyo, dan Marubeni Corp. cabang Osaka.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, Lim Hng Kiang, dalam kegiatan serupa yang digelar di Tokyo, 30 Juni lalu mengemukakan potensi besar kerjasama investasi antara kawasan BBK dan Singapura, karena kedua wilayah tersebut semakin memiliki posisi tawar yang kuat terhadap Jepang dan dunia.
”BBK dan Singapura bisa saling melengkapi untuk memberikan potensi yang maksimal bagi pertumbuhan ekonomi ASEAN dan Jepang sendiri,” katanya.
BBK memiliki kekayaan sumber daya alam dan tenaga kerja yang besar, sedangkan Singapura memiliki akses finansial yang kuat di pasar global. (ant)
|