|
TANJUNGPINANG - Jajaran Dewan Kawasan (DK) FTZ BBK dan beberapa
pejabat Pemprov Kepri, saat ini berada di Jepang mempromosikan FTZ BBK.
Tiga kota akan disinggahi, yakni Nagoya, Osaka, dan Tokyo.
Lawatan ke negara berjuluk Matahari Terbit tersebut bekerja sama dengan Economic Development Banking (EDB) Singapura. ADB sendiri merupakan wadah kerja sama DK FTZ BBK dalam upaya memasarkan FTZ di tingkat internasional.
Ketua DPRD Kabupaten Bintan Dalmasry Syam menyambut baik upaya promosi yang dilakukan DK FTZ. Semakin gencar promosi semakin cepat peningkatan iklim investasi. Upaya ini tentu berdampak upaya meminimalisir angka pengangguran dan kemiskinan yang saat ini jumlahnya banyak di Kepulauan Riau.
’’Yang lebih penting, keberadaan investor yang sudah ada supaya tetap terjaga baik. Pasalnya, menarik 1 investor mau menanamkan investasi saja sangat sulit. Karena itu, secara bersama kita jaga agar iklim kondusif,’’ujarnya.
Jika investor masuk tentu akan membuka lapangan kerja serta sekaligus mendorong pertumbuhan perekonomian secara nasional. Pasca ditetapkannya Batam, Bintan dan Karimun sebagai daerah penerapan kawasan FTZ, memberi kesempatan Kepri berkembang, baik segi industri, perdagangan dan sebagainya.
Penerapan di lapangan ujar legislator asal Partai Golkar ini, memberi kemudahan pada investor khususnya pembebasan PPN dan PPn BM untuk produk yang diekspor kembali dengan prosedur yang sederhana, proses pelayanan investasi dimana investor dapat memperoleh seluruh perizinan, kebutuhan dokumentasi serta penyelesaian yang calon PMA.
Secara terpisah, Anggota DPRD Bintan, Endy Maulidi dan Timbul Sianturi menambahkan, promosi investasi Dewan Kawasan (DK) FTZ ke Jepang sah-sah saja. Tapi upaya menarik calon investor harus disejalankan dengan pengamanan dan pengembangan investasi yang sudah berjalan. Penerapan FTZ di BBK sangat dinanti. Pengembangan investasi yang sudah berjalan mesti ditingkatkan dan diamankan dari hal-hal yang dinilai membawa dampak merugikan. Pemerintah daerah diminta tidak melupakan pengembangan investasi usaha bisnis yang sudah ada.
Endi Optimis kunjungan DK FTZ ke Jepang akan membawa hasil. Karena, sebagian besar investasi yang sudah berjalan di Indonesia sebagian besar berasal dari investor asal negara tersebut. Hanya saja, selama ini potensi Kepri khususnya daerah yang sudah ditetapkan sebagai kawasan FTZ BBK belum maksimal. Momen promosi harus dijadikan langkah perubahan untuk peningkatan ekonomi Kepri.
Khusus untuk Bintan, pemerintah daerah semestinya mengiventarisasi ketersediaan lahan untuk penerapan FTZ itu secepatnya. Sementara, investasi yang sudah ada seperti perusahaan di kawasan Kijang Bintan Timur dan beberapa kawasan strategis di Lobam dan Lagoi harus diberikan motivasi untuk peningkatan penanaman modalnya.
Perkembangan investasi yang sudah ada tidak seharusnya dihambat. Selain persiapan infrastruktur, kondisi daerah yang aman juga menjadi penentu keberhasilan untuk penerapan FTZ di BBK yang akan memberi peluang dalam perekrutan tenaga kerja lokal. Apalagi, jika kunjungan DK ke Jepang membawa investor baru, lapangan kerja akan terbuka lebar.
Timbul Sianturi menambahkan untuk mendatangkan investasi ke suatu daerah, semua aspek harus diperhatikan. Saat ini payung hukum investasi dan penyediaan sarana infrastruktur sudah mulai dilengkapi. Sudah saatnya kondisi keamanan daerah ditingkatkan untuk memberikan jaminan yang maksimal kepada calon investor. (zek)
|