|
Jakarta (BCZ) Di tengah berkurangnya persedian cadangan minyak dan gas
bumi, ternyata masih ada secercah harapan. Persediaan gas blok D Alpha
Natuna masih menjanjikan.
"Kita masih memiliki persediaan gas alam yang lumayan. Setiap tahunnya gas dari Blok D Alpha Natuna bisa menyumbangkan pendapatan Negara hingga Rp 184,840 T atau US$20 Miliar," ujar pengamat perimnayakan Kurtubi di Jakarta, Selasa 2 Juli 2008.
Cadangan gas di blok tersebut mencapai 222 triliun kaki kubic/TCF. Karena kadar CO-2 gasnya sebesar 70 persen, maka gas metana berkisar 46 TCF. Menurut kurtubi jika harga minyak mencapai US$ 200 per barrel maka perkiraan harga Liquified Natural Gas/LNG mencapai 33 per mmbtu. Harga tersebut 10 kali lipat dengan harga LNG dari blok Tangguh yang hanya 3,5 mmbtu.
"Untuk itu, kita sangat berharap agar PT Pertamina (persero) selaku kontraktor yang telah ditunjuk oleh pemerintah, segera melakukan usahanya. Selain itu, Pertamina harus segera menemukan mitra kerjannya sehingga proyek ini dapat segera berfungsi dengan baik," ujarnya. Menurut Kurtubi, permintaan akan LNG dunia sudah semakin meroket. Kerananya momentum itu, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Seperti diketahui, kegiatan eskplorasi gas Natuna sudah menjadi tanggung jawab Pertamina. Karen Agustiawan, Corporate Senior Vice President Upstream PT Pertamina, mengakui bahwa pihaknya sudah menerima surat penunjukan dari pemerintah dalam hal ini Kementrian ESDM. Pertamina juga telah menyusun Feasibility study untuk memilih mitra kerja yang nantinya akan dimintakan persetujuan dari Departemen ESDM.
Soal kapan proyek ini bisa berjalan, Karen mengemukakan bahwa jika semua urusan lancar maka produksi gas bisa dinikmati pada 2010. "Untuk Engineering-nya direncanakan beroperasi pada 2009, maka masih membutuhkan banyak waktu untuk bisa berproduksi," terangnya.
Dia melanjutkan keputusan itu telah tertuang dalam surat menteri ESDM No 3588/11/MEM/2008 perihal status gas Natuna D-Alpha. Berkaitan dengan itu, pertamina diminta untuk menyiapkan feasilibiltas study terhadap proyek tersebut. "Dengan ditunjuknya pertamina selaku pengelola kita sangat berharap agar produksi gas dalam negeri bisa meningkat," katanya.
Kenyataan ini sepertinya dapat membawa angina segar bagi sektor sumber daya alam Indonesia. Karena sehari sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa kekayaan alam kita sudah menipis. Dan karena itulah, makanya sekarang produksi minyak kita sudah berkurang. Sehingga opsi untuk menaikkan harga BBM tidak bisa terhindarkan lagi. (makaris paru/JPNN)
|