|
Batam (BCZ) Menabung sangat dianjurkan untuk merencanakan masa
depan. Kebiasaan itu sebaiknya dimulai sejak kanak-kanak. Harapannya,
saat menginjak dewasa, mereka bisa mengatur keuangan dan tidak boros.
“Begitu anak kenal uang sebagai alat jual beli, menabung sudah harus dimulai,” kata Dra Artawati MAP, dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Orang tua memiliki tanggung jawab utama mengenalkan kebiasaan menabung. Selain itu, adanya tabungan di sekolah menjadi sarana mengenalkan kebiasaan menabung pada si kecil.
Memberikan konsep menabung untuk masa depan pada anak TK atau SD jelas sulit dilakukan. Sebab, kemampuan logika mereka belum mencapainya. Penjelasan pun sederhana saja.
''Misalnya, anak ingin membeli mainan yang harganya mahal. Meski mampu, mintalah anak menabung agar punya cukup uang untuk membeli mainan tersebut,'' sarannya.
Wanita yang mengambil gelar Master of Applied Psychology di Australia itu menambahkan, seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan penjelasan tentang menggunakan tabungan dengan bijak. Yakni, digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sudah direncanakan atau kebutuhan mendadak yang sangat penting.
''Beri juga pengertian, ada kalanya uang yang dihasilkan orang tua dari bekerja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, menabung harus dilakukan teratur,'' jelasnya.
Untuk mengajarkan keteraturan menabung, orang tua perlu memberi contoh. Jika menabung dilakukan di rumah, orang tua sebaiknya juga memiliki tabungan yang sama. Kemudian, ajaklah anak mengisi tabungan tersebut secara teratur bersama-sama. Bisa juga, orang tua membukakan rekening tabungan di bank untuk anak. Saat menyetorkan uang di bank, sebaiknya anak diajak.
''Memiliki tabungan sekaligus mengajarkan anak untuk belajar mengelola keuangan pribadi,'' ucapnya.
Setelah anak beranjak remaja, saat SMP, uang saku sebaiknya tidak diberikan tiap hari. Diskusikan jumlah yang kira-kira dibutuhkan anak dalam waktu sepekan. Termasuk, kebutuhan jajan. Berikan uang lebih untuk ditabung.
''Memberi kepercayaan membuatnya bertanggung jawab atas keuangannya,'' paparnya.
Pada saat tertentu, kendali orang tua atas pengelolaan uang dan tabungan anak harus diperketat. Misalnya, saat Lebaran atau Natal, anak mendapat uang saku lebih banyak dari keluarga besar. Tanpa mengurangi rasa senang anak atas banyaknya uang saku yang diperolehnya, ingatkan mereka untuk menabung.
''Anak mungkin butuh bantuan membuat prioritas dalam menggunakan uang tersebut, selain untuk tabungan,'' ujarnya. (jpnn/uji/nda)
|