|
Batam (BCZ) Sejak dulu manusia Indonesia akrab dengan obat tradisional, yang memang merupakan warisan berharga dari leluhur.
Ironisnya ternyata belum lama ini BPOM masih saja menemukan jamu yang mengandung bahan kimia. Hal ini tentu mengagetkan para pengguna jamu yang masih mengandalkan obat semacam ini untuk menjaga kesehatan atau mengobati penyakit.
Beberapa waktu lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan sedikitnya 50 jenis obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras di sejumlah pasar yang tersebar di 16 Provinsi di Indonesia. Obat-obat itu biasanya dijual di gerai-gerai jamu atau dijajakan oleh tukang jamu gendong (dengan sebutan jamu setelan). Kabar tersebut tentu saja menambah kekhawatiran bagi pecinta obat-obat tradisional, karena bahan kimia obat keras jika dikonsumsi akan membahayakan kesehatan. Sebetulnya, bagaimana cara memilih obat tradisional yang aman?
Mengonsumsi obat tradisional berbahan kimia obat keras bukan saja membahayakan kesehatan, tapi juga bisa mematikan. Pemakaian obat keras harus melalui pengawasan dan resep dokter.
Penting diketahui bahwa prinsip kerja jamu salah satunya adalah proses (reaksinya) yang lambat, tidak seperti obat dari bahan kimia yang bisa langsung bereaksi. Ini karena jamu bukan senyawa aktif. Kalau senyawa aktif (parasetamol, misalnya) butuh proses yang panjang. Jamu biasanya berasal dari simplisia (tanaman obat kering), yaitu daun/umbi yang diiris, dikeringkan, dan dihancurkan. Jamu diambil dari daun tanaman obat. Kalau mau diambil senyawanya harus diekstrak, dipisahkan dulu, dimurnikan, difraknisasi, baru dapat senyawanya. Tentu saja proses tersebut butuh jumlah bahan baku yang sangat banyak. Misalnya, dari satu ton daun sambiloto yang diekstrak, baru bisa didapat bahan aktifnya.
Itulah sebabnya jika efek sembuh langsung muncul begitu jamu diminum, konsumen layak curiga, karena pasti ada sesuatu. Itu yang terjadi pada jamu-jamu yang diberi obat-obat kimia tadi. Tanpa penelitian hanya dimasukkan begitu saja. Kalau gatal-gatal diberi CTM. Pusing-pusing, diberi antalgin atau parasetamol. Untuk asam urat, diberi allupurinol. Ya, jelas manjur. Tapi menjadi berbahaya karena dosisnya tidak diketahui dan tanpa pengawasan dokter. Jamunya hanya sebagai penampakan padahal isinya bahan kimia.
Aman dikonsumsi memang menjadi syarat utama jamu, seperti yang ditentukan oleh BPOM. Untuk menguji keamanan, biasanya dilihat kandungannya. Misalnya dengan melihat tingkat toksisitasnya. Contohnya buah mahkota dewa. Dosisnya harus sekian, tidak boleh melebihi sekian, karena toksik. Tentu saja tidak semua jamu tidak baik, dosis biasanya tertera pada kemasan, kecuali jamu gendong. Untuk penetapan dosis, sebenarnya tidak sembarangan ditentukan. Harus sampai penelitian preklinis (uji coba ke hewan). Dosis di sini dalam arti berkhasiat. Tapi, dosis juga dalam arti jangan sampai melebih toksisitasnya. Misalnya dosisnya satu sachet sehari. Berarti kalau lebih dari satu sachet, sudah melampaui batas yang ditentukan.
Jadi konsumen memang dituntut untuk harus jeli memilih, mana jamu yang aman dan mana yang tidak. Lagipula, negara kita ini sangat kaya dengan tanaman obat. Jadi, kitalah yang harus memberdayakan.
Selain soal khasiat, yang juga harus diperhatikan sebelum mengonsumsi jamu adalah sisi keamanan. Memang sulit untuk mengetahui apakah ada kandungan bahan kimia di dalam produk jamu. Harus melewati penelitian. Tapi, untuk melihat apakah jamu masih bagus (layak konsumsi) atau tidak, bisa dilakukan. Salah satunya dengan melihat tanggal kadaluwarsa. Juga dari penampakkan serbuk jamunya sendiri. Serbuk yang bagus biasanya kering, tidak lembap.
Pilihlah jamu yang sudah teregistrasi. Ini paling tidak akan mengurangi kemungkinan meminum jamu yang tidak jelas kandungannya. Akan lebih baik kalau minum jamu yang diproduksi berdasarkan hasil penelitian dan proses pembuatannya benar (experiment-based dan knowledge-based). Minum jamu sebaiknya juga jangan sampai menjadi suatu ketergantungan. Meskipun sifatnya lebih untuk pencegahan, sebaiknya jangan setiap hari. Diberi selang waktu, misalnya minum dua hari sekali. Yang tak kalah penting adalah konsumsi gizi yang baik, olahraga dan istirahat teratur. Itu juga membantu mencegah penyakit. (cq/jpnn)
|